logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Nopember 2004 EKONOMI
Line

PPA Ditargetkan Setor Rp 4 Triliun

JAKARTA-PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) ditargetkan oleh pemerintah menyetor Rp 4 triliun ke APBN 2005. Ada tiga alternatif untuk memenuhi target tersebut.

''Pertama, kami bisa melakukan aksi korporasi, antara lain peningkatan nilai aset, program kerja sama pengelolaan, dan melakukan divestasi. Kedua, bisa menyetor dividen ke negara dari pengelolaan aset,'' ujar Mohammad Syahrial, Direktur Utama PT PPA, di Gedung Departemen Keuangan, kemarin.

Alternatif ketiga, lanjut dia, bisa melakukan setoran dana kepada pemerintah melalui pajak yang dibayarkan.

Dalam APBN Perubahan 2004 pemerintah menaikkan target penjualan aset program restrukturisasi perbankan dari Rp 5 triliun atau sekitar 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi Rp 12,9 triliun atau sekitar 0,6% dari PDB.

Sementara itu target privatisasi tetap Rp 5 triliun sehingga total penjualan aset program restrukturisasi perbankan dan privatisasi dalam APBN Perubahan sekitar Rp 17,9 triliun.

Syahrial menuturkan kini pihaknya tengah menyiapkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2005 untuk pemenuhan target setoran.

''Sehubungan dengan hal tersebut kami akan meminta persetujuan dari komisaris dan Menteri Negara BUMN,'' tuturnya.

Dia mengisyaratkan perolehan PT PPA didapat dari program penjualan saham bank serta program kerja sama pengelolaan aset

Sementara itu PPA memastikan akan menjual 20% saham PT Bank Permata Tbk melalui mekanisme pasar atau market placement sebelum penjualan saham minoritas pada tujuh bank.

''Secara logistik proses penjualan aset PPA itu sudah disiapkan, tetapi kami masih menyelesaikan 20% saham Bank Permata. Penjualannya bisa cepat karena lewat market placement,'' jelas Syahrial.

Setelah penjualan 71% saham, lanjut dia, pemerintah masih memiliki 26,17% saham di Bank Permata. Selain itu, masih mempunyai saham minoritas di PT Bank Central Asia Tbk (5,04%), PT Bank Danamon Tbk (20,50%), PT Bank Niaga Tbk (21,52%), PT Bank Internasional Indonesia Tbk (20,78%), BTPN (28,39%), MayBank Indocorp (6,08%), dan PT Bank Panin Tbk (0,0005%).

''Kapan penjualan saham minoritas itu dilakukan, kami belum tahu karena keputusannya ada di tangan Menteri Keuangan,'' jelasnya.

Sampai akhir tahun ini, kata dia, PPA sudah menyetorkan dana Rp 210 miliar dari dividen. Total aset PPA diperkirakan sekitar Rp 11 triliun.

Evaluasi BPK

Mengenai proses penjualan aset properti, dia mengatakan kini masih dalam penetapan nilai serta evaluasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Ia mengaku belum mengetahui nilai aset properti yang akan dijual. Apabila BPK sudah selesai mengevaluasi maka nilainya akan ditetapkan.

Syahrial mengungkapkan pihaknya akan mempertahankan kepemilikan saham pada beberapa bank jika target setoran APBN bisa ditutup dari penjualan 71% saham PT Bank Permata Tbk.

Rencana penglepasan 20% saham Bank Permata, kata dia, masih menunggu keputusan Menteri Keuangan.

Harganya akan dipatok sebagaimana harga saham ketika divestasi 51% dilakukan atau setara dengan Rp 704/lembar atau 2,72 kali nilai buku pada Juni 2004 Rp 258/lembar.

Proses uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test atas prefered bidder atau penawar yang diutamakan atas 51% saham Bank Permata, yakni Konsorsium Standard Chartered Bank-Astra International, akan diselesaikan 5 November.

''Pembayaran transaksi divestasi dilakukan dalam bentuk rupiah senilai Rp 2,77 triliun pada 11 November 2004,'' tutur Syahrial.

Konsorsium Standard Chartered Bank-Astra International mengisyaratkan tetap menempatkan Agus Martowardojo sebagai Direktur Utama di PT Bank Permata Tbk.

PPA telah menandatangani sales and purchase agreement (SPA) atau perjanjian jual-beli penjualan 51% saham Bank Permata kepada konsorsium tersebut dan menyepakati hak pemerintah menempatkan 4 direktur di bank itu. (bn-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA