| Senin, 01 Nopember 2004 | SALA |
Tanam Wijen Cocok di Musim KemarauADA kegiatan yang berbeda, yang dilakukan para petani di Kecamatan Gatak dan Baki Sukoharjo saat ini. Memasuki musim hujan, mereka bisa tersenyum. Bukan hanya menyongsong masa tanam, namun juga menikmati panen wijen. Tanaman tersebut mereka tanam saat musim kemarau. Awalnya hanya coba- coba setelah mendapat pengarahan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL). Para PPL merasa sayang, karena hamparan tanah pertanian yang begitu luas dibiarkan menganggur saat kemarau tiba. Petani tak bisa memanfaatkan lahan itu, karena tak ada air. Mereka pun mencoba mendekati petani, dan mengajaknya menanam wijen. Tanaman untuk bahan makanan kecil ondhe-ondhe dan krasikan tersebut, mudah ditanam dan tidak rewel. Kebutuhan air pun sangat hemat, sehingga tidak merepotkan penanamnya. Bahkan, minyaknya banyak digunakan para penderita kolesterol tinggi untuk menumis makanan. ''Ya, saya hanya coba- coba,'' kata Mitro Raharjo (54), warga Jombor, Desa Duwet, Kecamatan Baki. Hamparan tanah satu pathok miliknya pun diolah untuk ditanami wijen. Untuk lahan seluas 2.500 m persegi itu, dia membutuhkan benih sebanyak setengah koligram dengan harga Rp 10.000. Sesuai dengan arahan PPL, tanaman itu dirawat dengan baik. Tak lupa dia melakukan pemupukan urea, TSP, dan KCl. Mitro juga rela menyewa pompa untuk menyedot air sebanyak empat kali semasa tanam. ''Hasilnya lumayan. Untuk setengah pathok saja, hasilnya mencapai 1,5 kuintal bersih. Baru di rumah, sudah ditawar pembeli dengan harga Rp 8.000/kg. Lumayan, buat menyambut Lebaran.'' Bagaimana cara memanen? Tanaman dibabat dengan sabit. Sampai di rumah, ditumpuk selama dua hari agar daunnya layu dan rontok. Setelah itu, batang tanaman dijemur hingga kering dan polong wijen pecah. Lumayan Selanjutnya, tinggal memukul- mukulkan batang tanaman ke papan kayu untuk merontokkan wijen. Setelah dibersihkan dengan cara disaring, maka wijen sudah siap dijual. Petani lainnya, Marsono (61) mengaku tertarik menanam wijen karena hasilnya lebih baik. Semula dia nekat menanam padi saat kemarau. Tapi ternyata, setelah dikalkulasi hasilnya tidak seberapa. ''Lalu saya menanam ketela, hasilnya juga tidak nyukupi. Eh, lalu ada tawaran dari PPL untuk menanam wijen. Hasilnya lumayan, apalagi proses menanam pun tidak njlimet.'' Kepala Dipertan Sukoharjo, Ir Sri Sutarni menjelaskan, tanaman wijen sudah lama dikembangkan di kawasan Sukoharjo. Namun beberapa tahun terakhir ini, hanya beberapa petani yang mengembangkan tanaman tersebut. Padahal, wijen termasuk tanaman yang tidak rewel, sehingga sangat cocok ditanam pada musim kemarau. ''Pemasarannya terbuka luas, apalagi di Sukoharjo sudah ada pengrajin minyak wijen yang sanggup menampung hasil tanaman petani. Potensi Sukoharjo sebenarnya sangat besar, mengingat ada ribuan hektare lahan yang ditelantarkan saat kemarau. Nah, kalau mereka mau menanam wijen, tentu hasilnya sangat bagus.'' (Joko Murdowo-85a) |