logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Nopember 2004 WACANA
Line

Internalisasi Nilai-nilai Universal Alquran

Oleh: Ali Utsman

TAK terasa, kita (umat Islam) telah memasuki pekan ketiga bulan suci Ramadan. Di pekan inilah umat Islam memperingati peristiwa bersejarah turunya Alquran. Tanggal 17 Ramadan dianggap sebagai puncak peringatan, karena pada tanggal inilah Alquran diyakini diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW (Alquran, Surat Al-Baqarah: 185). Oleh karena itu, bulan Ramadan juga dikenal sebagai bulan Alquran.

Momentum peringatan nuzulul Quran(turunnya Alquran), seyogianya merupakan wahana yang tepat untuk membuat refleksi dan proyeksi diri. Refleksi diri, berarti menengok ke belakang untuk mengevaluasi dan introspeksi (muhasabah) atas pengamalan ajaran Alquran selama ini.

Sedangkan membuat proyeksi, berarti meneguhkan cita-cita untuk mengamalkan Alquran lebih baik di masa mendatang.

Apalagi, turunnya kitab suci itu bersamaan dengan momentum bulan suci Ramadan, yang berarti pula menambah ketajaman bagi umat Islam untuk memperdalam makna Alquran secara keseluruhan. Pelaksanaan ibadah puasa mengantarkan seorang muslim semakin peka terhadap kebenaran, dari mana dan kapan pun datangnya. Tentu saja termasuk yang ada dalam kitab suci Alquran yang kita yakini kebenarannya.

Menurut cendekiawan muslim Muhammad Wahyuni Nafis (2003), kata nuzul dalam bahasa Arab berarti sebuah proses turunnya sesuatu dari yang metafisik kepada sesuatu yang fisik.

Dengan demikian, nuzulul Quran, berarti proses turunnya Alquran dari yang metafisik (Allah) kepada yang fisik (Rasulullah Muhammad SAW). Sedangkan lawan kata dari kata nuzul adalah mi'raj, yaitu, sebuah proses perjalanan naik dari sesuatu yang fisikal kepada yang metafisik. Contoh yang paling aktual adalah peristiwa isra mikraj Nabi Muhammad.

Panduan Hidup

Sudah menjadi keyakinan umat Islam, bahwa Alquran merupakan pedoman hidup untuk semua manusia. Ia diturunkan Tuhan sebagai petunjuk (hudan) bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang ras, suku, budaya, status sosial, maupun agama.

Karena itu, Alquran sebenarnya adalah panduan hidup manusia yang universal. Statemen Alquran sebagai petunjuk bagi manusia harus dipahami bahwa keseluruhan isi kitab ini milik dan untuk semua umat manusia.

Dengan demikian, tidaklah benar Alquran diklaim sebagai milik umat Islam semata. Hal ini berpijak pada nilai-nilai universal yang terkandung di dalam Alquran itu sendiri.

Dalam surat Al-Baqarah disebutkan, kitab Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa (hudan lilmuttaqin). Namun, menurut hemat penulis, pengertian takwa tidak boleh terkooptasi hanya milik umat Islam. Sebab, pengertian takwa bermakna universal dan berdimensi sosial.

Karakter dan watak orang bertakwa, hemat penulis, adalah mereka yang mampu menjaga diri, di mana dan kapan pun ia berada. Menjaga diri berguna untuk menghindari konflik atau pertentangan dengan orang lain. Oleh sebab itulah, orang yang terus-menerus menjaga diri dipastikan memiliki cara berpikir yang benar karena menghindari masalah dengan sesamanya.

Oleh karena itu, orang yang bertakwa selalu berorientasi pada kebenaran dari Tuhan (alhaqqu min al-rabbik). Sebab, jika kita mengacu pada konsep Islam pun, Tuhan disebut sebagai Al-Haq (pemilik kebenaran sejati). Jadi, orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa berpikir benar untuk mencapai satu kebenaran sejati yang bernama Al-Haq.

Dipahami dan Diamalkan

Untuk mengamalkan Alquran secara praktis dalam kehidupan nyata, ada ungkapan menarik dari Sir Mumammad Iqbal, "Bacalah Alquran seolah-olah ia diturunkan kepadamu". Jika hal ini dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh setiap muslim, niscaya Alquran menjadi petunjuk sesungguhnya dalam kehidupan ini.

Misalnya, ketika Alquran mengkritik seseorang atau sebuah kaum yang melakukan perbuatan melanggar etika, maka itu sesungguhnya mengingatkan kita supaya memperbaiki sikap dan perilaku.

Alquran diturunkan secara bertahap. Dari proses ini, kemudian menimbulkan dua watak Alquran, yakni transendental dan transhistoris. Transendental bermakna Alquran memiliki nilai-nilai ilahiah atau tidak tersentuh oleh kemampuan pikir manusia. Makanya, sampai kapan pun, bentuk, isi, dan keistimewaan Alquran, tidak akan pernah tertandingi oleh kemampuan pikir manusia.

Sedangkan transhistoris, berarti, Alquran diturunkan dengan beragam situasi dan kondisi. tetapi nilai yang dikandung tidak terbatas oleh ruang dan waktu tertentu. Dengan begitu, Alquran senantiasa bisa menjadi acuan semua umat manusia, di mana dan kapan pun juga.

Karena itu, saat ini yang terpenting bagi umat Islam adalah bagaimana membaca Alquran, bukan hanya sebagai sebuah kebiasaan, melainkan menghayati, memahami, dan mengamalkannya.

Peringatan nuzulul Quran harus dimaknai sebagai proses internalisasi nilai-nilai universalitas Alquran kepada hati kita. Bukan lagi dipahami atau diperingati sebagai bukti fisik saat turunnya Alquran seperti 14 abad silam.

Sebab, inti peringatan nuzulul Quran tidak pada dimensi eksoteris (bersifat fisikal), tetapi pada dimensi esoteris (substansial) yang lebih mengedepankan internalisasi nilai daripada seremonial yang kerap kehilangan makna.

Semoga peringatan nuzulul Quran pada Ramadan kali ini benar-benar membawa perubahan yang signifikan di tengah-tengah kondisi masyarakat yang sedang mengalami krisis moral. Dengan harapan, Alquran dapat dijadikan cahaya hidup yang menerangi kehidupan manusia.

Maka menjadi benar ungkapan Goethe: this book will go on exercising thought all ages a most potent influence. Alquran akan terus menggugah sepanjang masa dengan pengaruh yang luar biasa. Inilah arti penting dari nuzulul Quran. Wallahu 'alam. (29)

-Ali Utsman, Koordinator Social and Philosopical Studies, Yogyakarta.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA