logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Nopember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Kita Berharap terhadap Kesembuhan Arafat

- Bangsa Palestina saat ini sedang menghadapi cobaan. Pemimpin mereka, Yasser Arafat, harus dirawat di sebuah rumah sakit militer Prancis, tidak jauh dari Kota Paris. Dia terserang penyakit yang belum diketahui dengan pasti, dan pingsan beberapa kali, sebelum akhirnya diterbangkan ke Paris dari markasnya di Kota Ramallah, Tepi Barat. Selama dua tahun terakhir ini dia dikepung pasukan Israel di markas itu. Kabar buruk tersebut muncul di tengah-tengah macet totalnya prakarsa perdamaian Timur Tengah yang disebut ''peta jalan'', dan belum adanya calon pengganti untuk meneruskan Arafat yang kini telah berusia 70 tahun lebih. Sebagai pemimpin yang memulai kariernya sebagai militan anti-Israel, dia sosok konsisten yang memperjuangkan berdirinya sebuah negara Palestina merdeka.

- Sebaliknya, Israel tidak bisa dimungkiri amat senang atas sakitnya Arafat. Bagi negara Yahudi itu, juga AS, dia dianggap sebagai penghambat utama penyelesaian konflik Timur Tengah berdasarkan skenario mereka sendiri. PM Ariel Sharon dalam beberapa kali kesempatan secara terang-terangan menyatakan siap menyingkirkan Arafat, jika perlu membunuhnya. Sekarang, para pemimpin Israel yang bersuka cita bahkan sudah menganggap presiden Palestina tersebut ''tak lagi perlu diperhitungkan'', alias telah tiada. Sharon mengatakan silakan saja Arafat pulang ke Ramallah jika dia kelak telah menjalani pengobatan di Paris. Padahal, sebelumnya dia berupaya keras mengusir pemimpin Palestina itu dengan segala cara dan mengasingkannya ke luar negeri selama-lamanya.

- Tawaran Sharon untuk mengizinkan Arafat kembali ke Ramallah pastilah bukan karena dia murah hati. Itu lebih disebabkan dia dan para pemimpin lain Israel ''optimistis'' Arafat tidak akan dapat pulih kembali sepenuhnya setelah menjalani pengobatan di Prancis. Bukan saja karena Arafat telah tua, melainkan juga karena penyakit yang dideritanya. Dengan kata lain, Israel kelihatannya mengharapkan skenario paling buruk bagi Arafat: meninggal dunia. Maka, tercapailah tujuannya untuk menyingkirkan pemimpin Palestina tersebut, tanpa mengotorkan tangan mereka sendiri. Mereka berharap tangan Tuhan mewujudkan impiannya sejak lama. Namun para pemimpin Israel agaknya lupa, Tuhan Yang Mahakuasa juga bisa berkehendak lain: menyembuhkan Arafat dan memperpanjang umurnya!

- Kita tentu berharap seperti asa kebanyakan rakyat Palestina, yakni kesembuhan Arafat. Sungguh sangat berbahaya kalau sang pemimpin meninggal atau bertahan hidup tetapi dalam keadaan sakit. Sebab, sejauh ini hanya dialah sosok yang tidak pernah surut dalam menggapai cita-cita rakyat Palestina: mempunyai negara merdeka di seluruh tanah yang sekarang dikuasai Israel dengan Jarusalem Timur sebagai ibu kota. Cita-cita tegar itulah yang membuat proses perdamaian macet. Dan Israel bagaimanapun sudah dengan gamblang menyatakan Jerusalem tidak boleh dibagi-bagi seperti keadaan sebelum Perang Timur Tengah 1976. Jerusalem telah diproklamasikan sebagai ibu kota Isreal, menggantikan Tel Aviv. Masing-masing pihak mematok harga mati mengenai Jerusalem.

- Karena sikapnya yang konsisten itulah, AS - khususnya Presiden George W Bush yang tidak pernah mengurangi dukungan kepada Israel - gigih berupaya ''mereformasi'' kepemimpinan Pemerintah Otonomi Palestina. Dengan cara kasar mencampuri internal orang lain, Washington lewat berbagai tekanan mencoba memandulkan kepemimpinan Arafat dengan menempatkan PM yang dianggap moderat (pro-AS). Mula-mula muncul Mahmoud Abbas. Namun PM itu hanya bertahan beberapa bulan karena Arafat tidak pernah mau melepaskan kendali badan-badan keamanan Palestina. Padahal, badan keamanan itulah yang diharapkan oleh AS dan Israel dimanfaatkan untuk menindak kaum militan Palestina yang melancarkan serangan-serangan maut terhadap Israel.

- Giliran PM yang sekarang, Ahmad Korei, didorong oleh AS untuk memereteli kekuasaan Arafat, tetapi juga gagal. Hubungannya dengan sang presiden menjadi amat tidak harmonis. Bagi kita, orang luar, Arafat jelas merupakan sosok yang tidak pernah luntur memperjuangkan hak penuh rakyatnya. Apa yang disebut oleh AS sebagai perlunya reformasi di tubuh Otoritas Palestina, sungguh menyesatkan. Reformasi seperti apa yang diinginkan negara adikuasa tersebut? Jelas reformasi terhadap tujuan perjuangan rakyat Palestina. Karena itu, kesembuhan Arafat amatlah penting untuk mempertahankan arah perjuangan. Namun, Arafat mulai sekarang sudah harus menunjuk calon pengganti yang misi dan visinya sama, bukan ''reformis'' yang hanya menyenangkan AS-Israel.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA