| Senin, 01 Nopember 2004 | MURIA |
Ratusan Ribu Hektare Lahan di Jateng KritisKUDUS - Pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang tidak memperhatikan faktor daya dukung ekologi, ditengarai menjadi salah satu faktor penyebab munculnya kerusakan sejumlah kawasan hutan. Selain kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam, ketidakarifan manusia dalam mengatur sumber daya alam itu, menjadikan bencana selalu berulang setiap tahunnya. Data dari Dinas Kehutanan Propinsi Jateng menyebutkan, luas lahan kritis sampai dengan 2004 mencapai 683.276 ha atau kurang lebih 20% dari luas provinsi Jateng yang mencapai 3.450.205 ha. Kepala Subdinas Rehabilitasi Pengelolaan dan Pemberdayaan Lahan Hutan (RPPLH) Dinas Kehutanan Jawa Tengah, Edy Sulistyo mengemukakan hal itu pada seminar "Review Tata Kelola Kawasan Muria Berbasis Sumber Daya Lokal Menuju Demokratisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Lestari". Acara itu diselenggarakan oleh Puslitbang Uniersitas Muria Kudus (UMK) bekerja sama dengan lembaga Relung Jogjakarta, di ruang seminar lantai IV pada Sabtu (30/10 lalu. Dia menyatakan, dari 683.276 ha lahan kritis tersebut, 57.387 ha di antaranya berada di kawasan hutan negara. Adanya lahan kritis tersebut mengakibatkan erosi yang terjadi di lima daerah aliran sungai (DAS), yaitu Citandui, Serayu, Luk Ulo, Jratun Seluna, Pemali Comal, dan Bengawan Solo, mencapai 2,2 mm - 10,7 mm per tahun. ''Jika jumlah lahan kritis semakin bertambah setiap tahun, dampak ekologi pada lingkungan di sekitarnya juga akan lebih besar,'' katanya. Menurut dia, untuk mengatasi beberapa kerusakan pada lingkungan sekitar DAS, dituntut adanya pendekatan ekologis secara komprehensif. Artinya, ujar dia, hal itu tidak bisa disekat-sekat oleh batas-batas administratif kewilayahan. Namun, kenyataannya, dalam era otonomi seperti sekarang sering muncul kecenderungan setiap daerah otonom akan memperbesar penggunaan potensi sumber daya alamnya secara eksploitatif. ''Hal itu tentu akan sangat merugikan ekologi lingkungan itu sendiri,'' ungkapnya. Kenyataan itu, jika terus-menerus terjadi dalam jangka menengah dan panjang jelas akan merugikan berbagai hasil tatanan lingkungan yang menyangga kehidupan selama ini. Dia juga menuturkan, kerusakan daya dukung ekologi tersebut juga mempunyai andil penyebab beberapa bencana, seperti kekeringan. Data dari Dinas Kehutanan Jateng tahun 2004 juga menunjukkan, setiap tahun rata-rata 51 ribu lahan pertanian di Jateng mengalami kekeringan. Pada dasarnya kekeringan adalah salah satu jenis bencana alam yang terjadinya peralahan, merayap, dan berlangsung lama sampai musim penghujan tiba. Penyebabnya, selain oleh alam, salah satunya adalah ketiadaan keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan akan air. (ton-15i) |