logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Nopember 2004 KEDU & DIY
Line

Peziarah di Gunung Andong Membeludak pada Malam Selikuran

SEMILIR angin pagi di kaki Gunung Andong meningkahi langkah sang juru kunci yang perlahan. Ia menapaki puluhan anak tangga yang menghubungkan Dusun Tirto dengan kompleks makam di atasnya.

Di tempat tertinggi dari kompleks makam terdapat bangunan seperti masjid dengan tiga pohon pala berdiri kokoh di halaman. Bangunan itu mempunyai dua ruang. Sebuah serambi berukuran 3 x 9 meter dan ruang utama seluas lebih dari 100 meter persegi.

Tepat di tengah ruang utama terdapat tiga nisan yang dikelilingi dinding kaca. Dua nisan di bagian tepi menggunduk tinggi, sedangkan satu yang di tengah lebih rendah. Di bawah salah satu dari ketiga nisan itu diyakini jenazah Sunan Geseng disemayamkan.

Makam sunan yang berlokasi di Dusun Tirto Desa Tirto Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang itu sering menjadi tempat tujuan para peziarah. Pada bulan Rajab, Syakban, dan Syawal, makam murid Sunan Kalijaga itu didatangi puluhan hingga ratusan orang dari berbagai daerah di Jateng setiap hari. Namun, pada bulan-bulan lain peziarah yang berkunjung hanya belasan orang per hari.

Sejak 1 Ramadhan lalu, makam Sunan Geseng sepi peziarah. Menurut juru kunci makam, Abdurrokhim (28), satu-dua peziarah datang pada Ramadan ini berasal dari pedesaan di sekitar Tirto.

Namun, pengunjung dari daerah lain bukan tidak ada. Misalnya, pada pagi kemarin empat orang dari Temanggung, Kebumen, Kulon Progo, dan Batang, tampak duduk beralas tikar di sudut serambi makam Sunan Geseng. Orang-orang yang semula tidak saling kenal itu tiba di Tirto tidak berbarengan. ''Saya berada di sini sejak awal Ramadan,'' ujar peziarah yang mengaku berasal dari Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung.

Lonjakan

Sementara itu, Yazid (30), peziarah dari Kabupaten Kebumen, telah berada di bangunan makam Sunan Geseng sejak sebulan yang lalu. Muhyidin (60) dari Kabupaten Batang dan Ikhwanudin (32) dari Kulon Progo pun tidak datang bersamaan.

Muhyidin mengatakan, ia berziarah agar mendapatkan banyak ilmu yang berkah dan bermanfaat. Hal senada diungkapkan pula oleh Yazid.

Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, keempat peziarah itu bertadarus dan melakukan wirid hampir di sebagian besar waktunya. Mereka mengerjakan shalat tarawih di masjid dusun sekitar makam.

Lonjakan jumlah pengunjung makam terjadi pada malam kedua puluh satu Ramadan. Pada malam itu jumlah peziarah melebihi pada hari-hari pada bulan Rajab, Syakban, atau Syawal. ''Paling banyak peziarah pada malam selikuran,'' ungkap Abdurrokhim.

Pada malam selikuran para peziarah yang mengunjungi makam tidak hanya berdoa, tapi juga mengikuti pengajian di Masjid Dusun Tirto. Selain itu, simakan Alquran juga diadakan. Pada malam selikuran besok, penghafal Alquran yang memimpin simakan adalah KH Mahyan Ahmad dari Purwodadi.

Dia juga menceritakan awal keberadaan Sunan Geseng di Tirto. Pada akhir pembangunan Masjid Demak, Sunan Kalijaga memberi sepotong kayu sisa bangunan kepada muridnya itu. Kayu tersebut digunakan sebagai penanda tempat Sunan Geseng harus menetap dan berdakwah.

Caranya adalah dengan membawa kayu pemberian sang guru dari Demak menuju ke tempat asalnya, Bagelen Purworejo. Jika dalam perjalanan kayu tersebut jatuh di suatu tempat, di tempat itulah Sunan Geseng diharuskan berhenti dan tinggal.

Ternyata dalam perjalanan jauh itu, kayu yang dibawanya jatuh di Dusun Tirto. Karena itu, di kaki gunung tersebutlah ia tinggal hingga akhir hayat. Di tempat itu pula Sunan Geseng menyebarkan Islam kepada orang-orang di sekitarnya. (Tri Widayat-92e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA