logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Nopember 2004 KEDU & DIY
Line

Kualitas Pendidikan Indonesia Terburuk

YOGYAKARTA - Hasil survei pembangunan manusia Indonesia oleh United Nation Development Programme (UNDP) dan Political and Economic Review Consultancy (PERC) tentang kualitas pendidikan ternyata berkolerasi, yaitu sama-sama terburuk.

Dalam laporan tahunan UNDP 2004, indeks pembangunan manusia Indonesia menempati urutan ke-111 (tahun lalu urutan ke-112) dari 177 negara. Bila dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, Indonesia hanya sejajar dengan Vietnam tapi di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Adapun hasil survei tentang kualitas pendidikan di Asia yang dilakukan oleh PERC yang berbasis di Hong Kong, Indonesia menempati urutan ke-12 atau yang terburuk. Rendahnya kualitas pendidikan itu telah berpengaruh pada rendahnya daya saing bangsa Indonesia di dunia internasional.

Hal itu diungkapkan Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UNJY) Dr EF Slamet S Sarwono MBA ketika mewidusa 500 sarjana 2004/2005, baru-baru ini. ''Pada 2003 Indonesia menempati urutan sangat rendah, yaitu di urutan ke-28 dari 30 negara yang berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa,'' ungkapnya.

Dia mengakui, tidak mudah menjawab pertanyaan mengapa kualitas pendidikan di indonesia rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Dari segi kebijakan pemerintah, sebenarnya telah dilakukan berbagai usaha untuk memajukan pendidikan atau pendidikan secara umum.

Dalam sektor pendidikan tinggi misalnya, pemerintah telah mengeluarkan pedoman yang termuat dalam Higher Education Long Term Strategy HELTS I sejak 1975 dan kini dengan berbagai perubahan signifikan kembali pemerintah mengeluarkan HELTS IV.

Dalam HELTS IV ditetapkan tiga kebijakan dasar yaitu menyangkut daya saing bangsa, otonomi, dan kesehatan organisasi. Kebijakan dasar itu meningkatkan daya saing bangsa berhubungan dengan peran sentral perguruan tinggi sebagai penghasil SDM yang berkualitas dan mampu beradaptasi terhadap perubahan Iptek.

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang didirikan untuk berpartisipasi guna mencerdaskan bangsa, UAJY pun berusaha terus menyempurnakan bangun kegiatan kurikuler dan nonkurikulernya. Karena itu, sejak berdiri UAJY memberi kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka melalui berbagai kegiatan kurikuler dan nonkurikuler.

Sebanyak 500 sarjana yang diwisuda itu terdiri atas 460 sarjana strata satu lulusan dari Fakultas Biologi, Fakultas Teknik, Fakultas Isipol, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Teknologi Industri. Adapun 40 sarjana yang lain adalah lulusan Magister Manajemen, Magister Hukum, dan Magister Teknik. (P12-80e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA