| Senin, 01 Nopember 2004 | KEDU & DIY |
Ramadan di Masjid Gedhe KaumanSetiap Kamis Disediakan Gulai KambingMengadakan- buka puasa bersama di sebuah masjid merupakan hal yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Menunya pun bermacam-macam. Mulai kolak, teh manis dingin sampai nasi bungkus dan minuman es buah (koktail) atau makanan ringan yang lain. Namun, lain halnya buka puasa di Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta. Untuk hidangan berbuka puasa setiap Kamis, takmir masjid di Kampung Kauman Kecamatan Gondomanan di barat Alun-alun Utara Yogyakarta itu menyediakan hidangan gulai kambing lengkap. Karena itu, jika pada saat berbuka puasa bersama tiap hari Ramadan takmir masjid melayani 300-400 orang, pada setiap Kamis yang datang sekitar 600 orang. Mereka bukan semata-mata kaum duafa. Sebagian mereka masyarakat biasa yang datang untuk merasakan nikmat berbuka puasa bersama di Masjid Gedhe Kauman. Soal tradisi menyediakan gulai kambing sebagai pelengkap takjil itu, Ketua Takmir Masjid Kauman H Abunda Farouk mengaku tidak mengetahui sejarahnya. Begitu pula mengapa hanya pada hari Kamis disediakan gulai kambing. Namun, diduga tradisi itu sudah berjalan sejak 1950. Ketika itu (sampai sekarang) di kawasan Kauman banyak terdapat sekolah Muhammadiyah yang meliburkan siswanya setiap Jumat. Kambing Sebab, pembuatan gulai kambing memerlukan ketelatenan dan waktu tersendiri. Tiap Kamis takmir masjid menyembelih dua-tiga ekor kabing. Di wilayah Kampung Kauman yang berbatasan dengan wilayah kecamatan Ngampilan terdapat sejumlah warung sate, gulai, dan tongseng kambing (SGTK) dengan citra kelezatan tersendiri. Karena banyak siswa yang tidak masuk sekolah setiap Jumat, mereka lalu membantu mempersiapkan menu berbuka bersama di Masjid Kauman. ''Hidangan gulai kambing dengan kenikmatan khas pada awalnya mungkin dimaksudkan sebagai daya tarik warga,'' kata salah seorang jamaah. Para petugas/juru masak menyelesaikan menu yang akan dihidangkan, mulai lepas shalat asar para pengunjung mulai berdatangan. Seusai menjalankan kewajiban shalat pada umumnya mereka melepaskan penat. Sekitar 45 menit sebelum memasuki saat berbuka puasa, takmir masjid mengadakan pengajian (taushiyah) singkat. Setelah itu mereka dengan tertib mengambil makanan yang disediakan. Satu hal lain yang juga menjadi ciri khas kegiatan di Masjid Keraton Yogyakarta adalah disediakannya oblok-oblok dan madumangsa yang merupakan makanan khas Kauman. Oblok-oblok adalah makanan yang disediakan pada setiap awal bulan Syawal terbuat dari kuah santan dicampur roti dan telur. Bersamaan dengan itu, di halaman masjid juga digelar acara garebeg maulud sebagai ungkapan syukur Sultan Keraton Yogyakarta sehubungan dengan datangnya Hari Raya Idhul Fitri. (Asril-92e) |