| Senin, 01 Nopember 2004 | BANYUMAS |
Penemuan Sumber Air Naikkan Harga TanahUPAYA untuk menemukan sumber air bawah tanah di kawasan Gunungtugel, Kecamatan Purwokerto Selatan, menyimpan cerita tersendiri. Warga kompleks Perumahan Rakyat Subinti milik pemerintah di Gunung Tugel bersama tim pengadaan air bersih kecamatan dan kabupaten pun frustrasi. Daerah itu, menurut pandangan awam, dikenal tak memiliki sumber air. Apalagi berbagai upaya warga dan pemerintah tak membuahkan hasil. Tak ayal, puluhan tahun warga Kelurahan Karangklesem dan Pamujan itu selalu kekurangan air bersih, khususnya pada musim kemarau. Berdasar pemetaan tanah Dinas Pengairan, Pertambangan, dan Energi, di kawasan itu tak ada sumber air yang mencukupi. Hanya ada empat titik di Pamujan. Itu pun terbatas. Namun semangat warga tak pupus di tengah jalan. Berbagai upaya mereka tempuh dari cara tradisional hingga penggunaan teknologi. Ritual dengan tumpeng untuk mohon petunjuk pada ''penunggu'' kawasan gunung yang gersang itu pun mereka lakukan berkali-kali. Saat hendak dilakukan pengeboran kali pertama 24 Agustus, kata Camat Purwokerto Selatan Drs Dwi Pinarto MHum, yang menjadi ketua tim, ritual itu kembali dilakukan. Namun kali ini gagal. Saat pengeboran alat bor patah berkali-kali. ''Kami frustrasi. Pengeboran pun kami hentikan beberapa pekan. Namun setelah mendapat bor baru dari Semarang, pengeboran kami lanjutkan,'' katanya. Pada 24 September upaya mereka berhasil. Mereka menemukan sumber air di kawasan berbatu cadas itu. Pengeboran diawali pendeteksian dengan geozonar oleh pakar air dari berpendidikan Jerman, Ir Dekan Jaya, staf Dinas Pertanian. Setelah penemuan sumber air selama tiga hari mulai 24 September mereka menguji apakah air itu memenuhi syarat atau tidak. Hasil pengujian, air layak komsumsi dan tak mengandung zat yang membahayakan. Dekan Jaya menuturkan debit air 25 l/detik. Itu mencukupi kebutuhan sekitar 7.000 keluarga. Namun yang dipakai baru sekitar 2 l/detik. ''Kalau kami gunakan semua bisa melayani warga Karangklesem dan Pamujan, bahkan juga untuk yang lain,'' kata Dwi Pinarto. Warga pun mengundang Bupati HM Aris Setiono untuk meresmikan proyek air bersih itu. Sebab, dalam pencarian sumber air warga mendapat bantuan dana dari pemerintah Rp 110,5 juta. ''Ini wujud syukur kami karena tak lagi kesulitan air bersih,'' ujar seorang warga, Sabtu (30/10), saat menyaksikan peresmian. Bupati pun memberikan bingkisan 100 paket bahan pokok untuk Lebaran pada warga Perumahan Subinti yang mayoritas kurang mampu. Mereka kebanyakan pemulung, pengemis, tukang becak, dan pekerja serabutan. Warga membentuk Paguyuban Dana Warih yang bertugas mengelola penggunaan air. Warga yang membutuhkan diwajibkan membayar Rp 100/ember. ''Saya sehari menghabiskan 10 ember air,'' ujar Ny Priyadi (30). Kabar soal penemuan sumber air di Gunung Tugel, menurut pengakuan sejumlah warga, berdampak terhadap harga jual tanah. Dulu, sebelum ada sumber air, tanah hanya dihargai Rp 200.000/ubin. Namun kini sekitar Rp 400.000/ubin. (Agus Wahyudi-86) |