logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 26 Oktober 2004 SEMARANG
Line

Terapi Obesitas, Akupuntur atau Puasa Tetap Butuh Motivasi

DUA setengah bulan lalu berat badan Yohanna masih 90 kg. Bermacam cara diet telah dia lakukan, termasuk olahraga dan mengurangi porsi makan. Beragam obat pelangsing juga telah diminum, namun berat badannya tak kunjung turun.

Perempuan dengan tinggi badan 159 cm itu pun mendatangi seorang dokter di bilangan Plaza Bangkong.

Selama 2,5 bulan, Yohanna serius berdiet dengan terapi akupuntur. Sekali dalam seminggu perempuan asal Purwodadi itu check up untuk memastikan berat badannya telah turun. Dalam setiap kunjungan, dokter juga mengganti dua jarum tinggal yang dipasang di dekat telinganya.

"Selama berobat, berat badan saya sudah turun 13 kg. Konsultasi dan tusuk jarum mendorong saya untuk menjaga pola makan sehingga setiap kali kontrol saya tidak malu gara-gara berat badan tidak turun," ucapnya saat ditemui usai konsultasi.

Cerita lain datang dari Novi. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Semarang itu rela merogoh kocek hingga Rp 900.000 untuk program akupuntur selama satu bulan. Bermacam cara dia coba, termasuk momentum puasa pun dimanfaatkan untuk berdiet.

Alih-alih turun, berat badannya malah naik 2 kg. Dengan sedikit harap, dia mendatangi ahli akupuntur di Klinik Holistik. Perpaduan terapi akupuntur dan herbal yang dia jalani selama satu bulan membuat berat badannya turun 3,5 kg dari 80 kg.

Seperti dikatakan dr Mulyono Angga Husada, puasa tidak menjamin berat badan seseorang turun. Kebiasaan "balas dendam" kala sahur dan berbuka memicu timbunan lemak makin membengkak.

Salah satu cara diet yang sehat dilakukan dengan mengubah pola dan porsi makan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sebagai pelancar, terapi akupuntur dapat dipilih untuk menjaga tubuh agar tetap fit.

Salah satu titik syaraf yang dipercaya dapat mengurangi nafsu makan ada di dekat telinga, tepatnya di bagian depan luar telinga.

Namun terapi akupuntur bukanlah segalanya. Motivasi dan pengubahan pola makan lebih utama ketimbang terapi itu sendiri.

"Terapi akupuntur hanya membantu mempertahankan vitalitas tubuh. Selama diet, asupan makanan dikurangi, sedangkan aktivitas kerja seperti sedia kala," kata Novi.

Berat Badan

Menurut penuturan dr Mulyono, mereka yang kelebihan berat badan atau mengalami obesitas biasanya ingin berat badannya turun secara drastis. Mereka lantas mengonsumsi obat-obatan yang bersifat dioretik.

"Obat dioretik membuat berat badan turun drastis karena obat itu memacu pengeluaran cairan tubuh. Efek negatifnya, badan jadi lemas, tekanan darah turun drastis, dan sakit," katanya.

Cara diet yang sehat, kata dia, adalah mengubah pola makan dan mengonsumsi makanan sesuai dengan kalori yang dikeluarkan tubuh.

Bagi mereka yang ingin berdiet, dr Mulyono menyarankan untuk banyak mengonsumsi sayuran. Menu diet yang ideal, kata dia, terdiri atas karbohidrat 1.000 kalori, protein 500 kalori, dan lauk 500 kalori.

Kebutuhan kalori normal diperkirakan 2.000 kalori/hari. Bagi mereka yang berpuasa, tak perlu makan berlebihan saat berbuka atau sahur.

"Selama ini ada anggapan diet bisa dilakukan dengan makan buah banyak-banyak. Padahal buah mengandung gula yang dapat menambah asupan kalori," ujarnya.

Namun dari berbagai terapi yang dilakukan, dr Muyono mengatakan bahwa faktor terpenting untuk berdiet adalah motivasi.

Berikutnya adalah mengubah pola makan dan mengurangi porsi sesuai dengan kebutuhan tubuh. (Ninik D-73n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA