| Kamis, 21 Oktober 2004 | SALA |
TERASDaging Glonggongan Lebih Mudah MembusukKLATEN - Daging sapi glonggongan memang beratnya bertambah, tapi ternyata lebih mudah busuk daripada daging sapi biasa. Hal itu disebabkan kandungan air dalam daging tinggi sehingga mempermudah perkembangbiakan kuman. ''Karena kandungan airnya tinggi, daging sapi glonggongan lebih mudah busuk. Umpamanya daging yang tidak diglonggong bisa dua hari, yang diglonggong hanya bertahan sehari. Itu karena kuman tumbuh subur,'' ujar drh Suharna anggota DPRD Klaten dari Fraksi PKS, kemarin. Menurut dia, mengkonsumsi daging sapi glonggongan memang tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan. Namun mungkin dari sisi psikologis, orang yang mengkonsumsinya akan ada sedikit tekanan. Karena itu dia mengimbau konsumsi daging glonggongan sebisa mungkin dihindari. Sebab hal itu lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. ''Daging sapi glonggongan itu terdapat unsur penipuannya, terutama pada kualitas daging. Bisa saja konsumen yang membeli 1 kg daging, padahal sebenarnya hanya mendapat 6 ons daging, sedangkan sisanya air,'' ujar Suharna yang lama berkecimpung dengan sapi. Menurut pengamatannya, sebagian konsumen daging di Klaten membeli dari Boyolali, daerah yang disebut-sebut sebagai asal daging glonggongan. Namun kalau di Klaten sendiri, dia belum menemui adanya sapi yang diglonggong. ''Mengglonggong itu kan menyakiti sapi. Bisa jadi sapinya mati sebelum disembelih. Jadi membunuh dulu, tapi nggak ada yang lihat. Itu sering terjadi. Kalau begitu kan dagingnya jadi haram bagi muslim,'' ujarnya. Bisa Mati Dia mengungkapkan, sapi itu memiliki tenggorokan yang bentuknya seperti jalan simpang. Bila sapi diglonggong, ada kemungkinan airnya masuk ke paru-parunya. Walau air yang masuk ke dalam paru-paru hanya sedikit, sapi pasti akan mati. Selain itu, sapi juga bisa mati karena lambungnya pecah akibat kebanyakan air. ''Dulu pernah ada seseorang yang punya sepuluh sapi yang diglonggong, 8 di antaranya mati akibat kebanyakan air, hanya dua yang bertahan hidup,'' ujar Suharna. Dengan mengglonggong sapi, orang bisa mendapat daging dengan berat berlipat. Namun kenyataannya memang banyak orang yang mau beli daging murah, tanpa peduli kualitas. Padahal daging glonggongan itu banyak air sehingga koyor-koyor. Untuk mengatasi beredarnya daging sapi glonggongan itu, dia menyarankan dilakukan pendekatan persuasif, terutama pada Ramadan ini. Pendekatan itu ditujukan kepada para jagal agar mereka tidak menyakiti sapi sebelum disembelih. ''Kalau mau ditertibkan, bisa dilakukan secara terpadu di wilayah se-Eks Karesidenan Surakarta. Caranya, dengan melakukan pendekatan persuasif terhadap para jagal sapi. Mereka harus diberi tahu, mengglonggong sapi itu ada unsur penipuannya,'' ujar Suharna yang tergabung dalam korps dai keadilan itu.(F5-85i) |