| Kamis, 21 Oktober 2004 | SALA |
"Ra Peye, Nggelar Wayangan Dhewe"RAMADAN memang menjadi bulan paling apes bagi para dalang. Job pentas wayangan yang biasanya diterima paling tidak 5-15 tempat dalam sebulan, dipastikan hilang. Tak ada satu pun tanggapan yang diterima di bulan suci tersebut. Karena itu, dipastikan akan sangat mudah mencari para dalang di rumahnya; hal yang sulit dilakukan pada bulan lain. "Ya beginilah; kalau puasa, memang kami ikut puasa. Blas ra ana sing nanggap. Tidak ada dalang yang peye (laku) di bulan puasa. Jadi, ya tiap hari ada di rumah," kata Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto, dalam perbincangan dengan Suara Merdeka, kemarin. Tapi justru karena hampir seluruh dalang tidak peye itulah, kemudian muncul ide untuk saling bersilaturahmi. Dan ternyata, meski sekadar undangan lewat telepon, para dalang yang datang dalam pertemuan tersebut amat banyak. Itulah, yang terjadi akhir pekan lalu, di Pesanggrahan Langenharjan, Sukoharjo. Adalah GPH Benowo, putra dalem almarhum PB XII yang juga seorang dalang, memiliki ide mengundang para dalang dalam suatu pertemuan. "Saya sedih, sebab seusai pemilu, para dalang yang sempat terkotak-kotak karena parpol itu menjadi saling sungkan untuk bertemu. Padahal saya tahu, sebenarnya di antara mereka tidak punya perasaan apa-apa," kata dia. 40 Dalang Ki Anom dan Ki Manteb dan dalang lainnya pun akhirnya menyambut baik pertemuan itu. Dan saat 40 dalang se-Surakarta hadir, kata Benowo, maka lumer-lah seluruh perasaan saling sungkan dan rikuh itu. Hilanglah kotak sekat parpol dan pemilu, berganti dengan saling canda dan saling gojlok antarmereka. "Pada dasarnya, para dalang itu sangat rukun. Hanya karena kesibukan masing-masing dan banyaknya joblah, yang mengakibatkan seperti ada gap antara satu dengan yang lain. Apalagi ketika masing-masing mulai peye karena tanggapan dari parpol yang bebeda, maka lengkaplah prasangka bahwa para dalang saling jegal, saling bermusuhan," kata Ki Manteb. Dia mengatakan, karena tidak ada yang peye itulah, maka bulan puasa, meski dianggap apes dari segi komersial, menjadi bulan penuh hikmah. Sebab, para dalang bisa bertemu dan menggelar acara bersama. Salah satunya, wayangan di sembilan tempat yang sudah dimulai Rabu malam di Pagelaran Keraton Surakarta. Itu berlangsung lancar, karena GPH Benowo dipercaya menjadi tuan rumah.(SM, 20/10). "Pokoknya, ini memang wayangan dari dalang untuk dalang dan masyarakat; serta digameli sendiri oleh para dalang. Pokoknya, karena puasa ini tidak ada yang peye, ya nggelar wayangan sendiri, dan ditonton sendiri. Sekalian sebagai ajang saling bersilaturahmi, mempererat kerukunan dan persatuan para dalang," kata Ki Anom. Tidak hanya itu, rencananya pentas rutin selama ramadan itu akan dibuat menjadi agenda tahunan. Setiap tahun, pas bulan puasa akan diselenggarakan terus pergelaran wayangan seperti itu. "Tidak ada salahnya, kalau kami ngalap berkah lalilatul qodar pada Ramadan, sambil melekan menunggu sahur tiba, dan menikmati wayangan. Tentu juga sambil berdoa, semoga ke depan makin banyak tanggapan." (Joko Dwi Hastanto, Wisnu Kisawa-92a) |