| Kamis, 21 Oktober 2004 | SALA |
Mengais Rezeki dari Tumpukan SampahASAP mengepul keluar dari tumpukan sampah, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, kemarin pagi. Selain menyebarkan aroma tak sedap, kepulan asap itu juga membuat matahari tak leluasa menebarkan cahaya. Meski terasa tak menyenangkan berada di tempat tersebut, masih saja ada orang yang seperti tak mempedulikannya. Lihat saja, ketika ada sekelompok orang yang mengaisi sampah-sampah yang berbau tak sedap itu. Berbaur dengan puluhan ekor sapi, mereka seperti berlomba memungut sampah dengan sekumpulan hewan, yang juga melakukan hal serupa. Di TPA Putri Cempo, sampah yang dibuang setiap hari berton-ton. Itu wajar, karena tempat tersebut merupakan kawasan pembuangan sekaligus penampungan terakhir dari berbagai wilayah di Kota Solo. "Dari catatan yang ada pada kami, jumlahnya memang bisa mencapai berton-ton setiap hari," papar salah seorang petugas TPA kepada Suara Merdeka, kemarin. Dengan kondisi yang demikian, tak heran jika kawasan itu selalu dipenuhi pemulung. Banyaknya sampah yang datang, membuat TPA yang berada di sisi paling utara wilayah Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, itu menjadi "lahan subur" bagi pemulung mencari rezeki. Juragan Sampah memang sangat berarti bagi para pemulung. Dari barang yang dianggap tak berguna itulah, mereka mencoba mengais rezeki. Karena itu, jangan heran jika mereka selalu memburu sampah tersebut, termasuk di TPA Putri Cempo. "Kalau jumlah pastinya saya tidak tahu. Pokoknya banyak. Terkadang kalau sedang ramai, jumlahnya bisa mencapai ratusan orang," tutur Kardi, salah seorang dari mereka. Meskipun terkadang dianggap sebagai pekerjaan remeh, namun jangan pernah menyepelekan keberadaan para pemulung itu. Sebab, tidak sedikit di antara mereka yang sudah berhasil; bahkan ada yang kemudian menjadi juragan dalam menekuni usaha tersebut. "Ada beberapa orang yang kini sudah menjadi juragan. Misalnya Parno, yang rumahnya juga tak seberapa jauh dari sini," jelas Kardi. Selain itu, keberadaan pemulung juga membantu dalam penanganan sampah di kawasan itu. Karena dari tangan merekalah, sampah yang tidak bisa terurai bisa dipisahkan."Kami memang mencari apa saja, yang masih bisa didaur ulang; misalnya plastik dan kardus," katanya. Lantas berapa yang didapatkan dari pekerjaan tersebut? Menurut Kardi, pendapatan dari memulung sampah tak bisa dipastikan. "Pokoknya, hasil usaha ini cukup untuk mememenuhi kebutuhan hidup keluarga saya." Itulah, para pemulung, yang mencoba mengais rezeki dari barang yang dianggap sudah tidak berguna. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi-92a) |