| Kamis, 21 Oktober 2004 | SALA |
Berharap Peningkatan StatusBAGI seorang Widya yang berstatus guru tidak tetap pada sebuah SMU swasta di Solo, menjadi guru bantu merupakan harapan terakhirnya untuk memperoleh pencerahan karirnya ke arah lebih baik. Guru yang sudah 14 tahun mengajar tetapi masih berstatus GTT itu, tak memungkinkan lagi mendaftar menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) lantaran faktor usia. Pelamar CPNS, dibatasi usia yang setinggi-tingginya 35 tahun, jika pernah mengabdi menjadi guru. Padahal, usia guru yang mengajar kesenian itu telah melebihi angka tersebut. "Menjadi guru bantu merupakan satu-satunya alternatif untuk peningkatan status saya, yang semula hanya guru tidak tetap. Meskipun sistemnya kontrak dan honornya juga terbatas, tetapi saya masih bisa berharap adanya perpanjangan kontrak," papar perempuan dua anak itu, ketika ditemui di tempat pendaftaran guru bantu, SMPN 12, kemarin. Meskipun berharap bisa diangkat menjadi guru bantu, Widya tak berani berharap banyak. Selain melihat pesaingnya tidak sedikit, ia pernah gagal melampaui ujian seleksi guru bantu, setahun silam. Hal itu sempat pula dikeluhkannya. Sama seperti tahun ini, kala itu juga terbersit janji wiyata bakti, guru tidak tetap, serta guru yang telah mengabdi yang bakal diprioritaskan. Namun kenyataannya, ia tidak diterima. "Jika dikatakan gagal ujian tertulis, saya rasa tidak; karena waktu itu saya merasa bisa mengerjakan dengan baik. Namun tetap saja tak lolos," keluhnya. Hal yang sama diungkapkan Purnami, yang berstatus guru tidak tetap di SMK Murni. Sama seperti Widya, Purnami juga telah mengabdi selama 2,5 tahun dengan status GTT. Berupaya merubah kondisi, setahun lalu ia juga mengikuti seleksi guru bantu, tetapi nasib baik belum berpihak kepadanya. Pantang berputus asa, kali ini ia mencoba mempertaruhkan keberuntungan lagi. "Berdoa saja saya, agar bisa terpilih. Soalnya, pengalaman dari tahun sebelumnya, rekan yang pengabdiannya sudah melampaui 10 tahun yang biasanya diterima," papar guru ekonomi itu. Berbeda dengan keduanya, Sugiyati merupakan fresh graduate (lulusan baru belum punya pengalaman kerja-red) FKIP UNS yang mengikuti seleksi guru bantu untuk memperoleh pekerjaan. Lulusan 2004 tersebut mengaku, setidaknya menjadi guru bantu bisa menambah pengalaman. Selain melamar guru bantu, ia juga berharap bisa mengikuti seleksi guru CPNS. Bagaimana jika tidak lolos seleksi? Sugiyarti mengaku belum punya rencana lebih lanjut; sedangkan Widya ataupun Purnami mengatakan tetap akan menjalani pekerjaan maupun status lama. "Bagaimana lagi, mungkin harus seperti ini. Kalau harus mengeluarkan uang pelicin, saya tak mampu," imbuh Widya. Widya maupun Purnami, merupakan potret mereka yang mengharapkan peningkatan status di antara ratusan pelamar lain yang hanya berupaya memperoleh pekerjaan. Namun, harapan yang mereka simpan justru lebih besar. (Evie Kusnindya-92a |