logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Oktober 2004 SALA
Line

Masjid Tiban Tertua di Wonogiri

MASJIDIL Haram merupakan masjid pertama di dunia, dibangun Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar, pada sekitar 4.509 tahun lampau.

Masjid kedua, Masjidil Aqsa (Palestina) dibangun oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masjid ketiga, Masjid Quba', dibangun Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya saat hijrah ke Yatsrib (Madinah). Bersama kaum muslimin pula, kemudian dibangun Masjid Nabawiy. Sejak itu, pendirian masjid banyak dilakukan dan menyebar di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia yang jumlahnya kini tak terhitung lagi.

Di Wonogiri, masjid tertua berada di Dusun Wonokerso, Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno; sekitar 40 kilometer arah selatan Kota Wonogiri.

Sebagai masjid tertua, keberadaannya diyakini lebih dahulu ada dibandingkan dengan Masjid Agung Demak, yang merupakan karya legendaris para wali itu. Bahkan diduga, masjid tiban Wonokerso tersebut menjadi maket yang dicipta sebelum Masjid Demak dibangun.

Dalam buku Sekitar Wali Sanga karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak.

Ada yang menyakini, dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi, tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428. Versi lain menyebutkan, dibangun pada tahun Saka 1388 sesuai dengan candrasengkala "Naga Salira Wani", serta sesuai dengan gambar petir di pintu tengahnya. Pendapat lain menyebutkan, didirikan pada tahun Saka 1410; berdasarkan gambar bulus di dalam masjid.

Kembali kepada Masjid Tiban Wonokerso. Menurut legenda, masjid itu ditemukan kali pertama oleh Ki Ageng Tugu (Tuhu) Wono, tatakala membuka rimba Sembuyan, untuk dijadikan tanah perdikan guna syiar agama Islam.

Waktu itu, dia dibantu oleh Ki Ageng Serang dan Kiai Gozali serta para pengikutnya. Betapa takjub mereka, ketika rimba terkuak ditemukan bangunan masjid yang terbuat dari bahan serbakayu jati. Dari proses temuan yang tiba-tiba itu, menjadikan masjid temuan tersebut dinamakan sebagai Masjid Tiban.

Kemudian siapa pula yang mendirikannya? Menurut legenda, Masjid Tiban dibangun oleh para wali, tatkala mereka mengembara dalam rangka mengemban tugas Raja Demak Bintoro untuk mencari kayu sebagai bahan baku saka guru Masjid Agung Demak.

Para wali singgah di hutan Sembuyan (Wonogiri selatan), dan sempat mendirikan Masjid Tiban. Namun ketika di rimba Sembuyan tak menemukan kayu jati pilihan, yang layak dipakai soko guru Masjid Demak, para wali itu kemudian meninggalkan Sembuyan menuju ke hutan Donoloyo di wilayah Keduwang, Wonogiri timur.

Ketika Masjid Tiban ditinggalkan, lambat laun kembali ditelan rimba Sembuyan; dan baru ditemukan lagi oleh Ki Ageng Tugu Wono, tatkala babat alas untuk membuat tanah perdikan.

Keraton Surakarta Hadiningrat, ikut memperhatikan keberadaan Masjid Tiban utu. Raja Paku Buwono (PB), menugasi ulama Imam Muhamad untuk mengurus Masjid Tiban, serta memimpin ibadah warga Wonokerso dan sekitarnya.

Sebagai konsekuensinya, Keraton memberikan bantuan dana pembelian minyak untuk lampu penerangan masjid, dan membebaskan warga dari pungutan pajak.

Saat ini, yang tampil menjadi takmir masjid adalah Isom dan imam masjid, Mbah Modin Zaenudin. "Sudah dua tahun ini masjid dipugar oleh Dinas Purbakala, dan dinyatakan sebagai bangunan bersejarah," kata Mulyono yang tinggal di sebelah timur Masjid Tiban.

Bangunan Masjid Tiban itu dinyatakan sebagai cagar budaya, yang diproteksi dengan Undang-Undang Kepurbakalaan, yakni UU 5/1992; dan dalam pengawasan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Indonesia.

Keberadaannya sampai sekarang terawat baik. Tempat yang diyakini sebagai pusat penyebaran Islam pertama di Wonogiri itu, tetap dijadikan sentral pembinaan Islam. Terlebih lagi selama Ramadan ini, setiap malam selalu digelar shalat tarawih, pengajian, dan tadarus, sebagai upaya memakmurkan masjid.(Bambang Pur-80a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA