| Kamis, 21 Oktober 2004 | PANTURA |
8.000 Pelanggan PDAM Tak Lagi Mendapatkan AirBREBES - Menipisnya persediaan air di Kali Pemali berdampak cukup luas bagi pelanggan air PDAM Brebes. Sejak sepekan yang lalu paling sedikit 8.000 pelanggan air mengaku tidak menerima jatah air seperti biasa. Aliran air yang biasa mengalir dengan lancar pada malam hari antara pukul 21.00 sampai 04.00 belakangan terganggu. Bahkan, di daerah tertentu yang rawan air aliran nyaris tak sampai rumah. Misalnya, di sekitar Desa Sigambir, Kompleks Perumahan BTN Limbangan Wetan bagian utara, Perumnas Kaligangsa Wetan, dan sebagian Perumahan Pegawai Kelurahan Gandasuli. "Aliran air sejak sepekan ini tak lancar, padahal biasanya pada pukul 21.00 bisa naik bak," ujar sejumlah warga penghuni Perumnas Kaligangsa Wetan. Terhambatnya aliran untuk konsumen Kota Brebes, sebagian Kecamatan Jatibarang dan Wanasari, merupakan dampak tak berfungsinya Instalasi Pengelolaan Air (IPA) Kedungtukang di Kecamatan Jatibarang. Sebab, suplai air IPA yang mengambil air Kali Pemali tidak bisa diandalkan lagi karena debit kali tersebut tinggal 109 liter per detik. Debit itu dapat dipantau di Bendung Notog di Kecamatan Songgom. Ketika air dialirkan ke IPA Kedungtukang yang berjarak sekitar 16 km, aliran air menjadi habis. Bahkan, di tempat pengambilan air IPA Kedungtukang di Dukuh Kedungwadas air mulai mengering. "Padahal, tempat ini pada musim hujan merupakan lokasi paling dalam Kali Pemali. Sekarang tinggal sedalam satu meter," ujar Warso, teknisi penunggu pompa air milik petani di Dukuh Kedungwadas Desa Kedungtukang. Kondisi Kering Direktur Umum PDAM Brebes Ir Sutirto MM kemarin mengaku kesulitan bahan baku air dari Kali Pemali karena sungai itu kering. Dari Kali Pemali pihaknya pada waktu lalu mengolah air sungai 35 liter per detik untuk konsumsi pelanggan Kota Brebes dan sekitarnya. Kemudian, ditambah suplai air dari Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Jateng di Slawi 70 liter per detik. "Namun, kini kami kehilangan 35 liter per detik dari IPA Kedungtukang, sehingga konsumen kekurangan air," paparnya. Bagaimana mengatasi kekurangan air pelanggan itu? Sutirto mengatakan, kini pihaknya terus mengupayakan pemanfaatan air bawah tanah di Wanacala, Jatibarang, dan Kaligangsa Wetan. Dari ketiga tempat tersebut akan diperoleh tambahan 30 liter per detik. Supaya semua konsumen terjangkau, pengoperasian alat pompa dari air bawah tanah akan diusahakan satu hari 22 jam. "Pompa yang kami operasikan di tiga tempat pengambilan air bawah tanah kami maksimalkan," tandasnya. Upaya lain yaitu dengan menggilir pengiriman air ke lokasi rawan air, seperti wilayah timur dan tengah kota. Pada waktu tertentu, petugas di lapangan melakukan buka-tutup palep supaya konsumen mendapat jatah air dalam jumlah yang sama. "Bahkan, pembuangan angin dari pipa yang menyumbat aliran air dilakukan terus-menerus siang-malam," paparnya. (wh-42e) |