| Kamis, 21 Oktober 2004 | NASIONAL |
Rusuh Mamasa, Polisi Buru Penyerang hingga ke HutanMAKASSAR-Meski hingga saat ini Polda Sulsel dibantu TNI telah menguasai 12 titik rawan, namun penyerangan oleh pihak propemekaran masih sering terjadi. Warga Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), pun masih dicekam ketakutan. Polisi kini masih menyisir sejumlah hutan dan gunung yang menjadi tempat persembunyian sejumlah pihak propemekaran. Pihak propemekaran ini sering menyerang pihak kontra pemekaran wilayah. "Petugas kami masih menyisir," ujar Kapolda Sulsel Irjen Pol Saleh Saat, usai pertemuan dengan Gubernur Sulbar dan sejumlah bupati, di Kantor Gubernur Sulsel Jl Urip Sumohardjo, Makassar, Rabu (20/10). Selain itu, Saleh juga menegaskan, polisi mulai akan mengambil tindakan tegas bila masih ada penyerangan. "Kami akan menindak tegas sesuai dengan yang terjadi di lapangan," tegasnya. Namun Saleh enggan menyebutkan tindakan riilnya. Sementara itu, 467 personel Polda Sulsel masih berjaga-jaga di Mamasa. Selain anggota Polda Sulsel, pihak kepolisian juga dibantu oleh sejumlah anggota TNI dari kesatuan terdekat dengan wilayah Mamasa. Satu Helikopter Guna mengejar pelaku kerusuhan di Mamasa, Sulawesi Barat, polisi menggunakan 1 helikopter dan 15 motor trail. Hal itu dilakukannya mengingat medan yang sulit ditempuh dan komunikasi radio yang terbatas. Demikian Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Paiman seusai meninjau langsung lokasi konflik di Mamasa, Sulbar, Selasa (19/10), bersama Kapolri Jenderal Polisi Dai Bachtiar. "Hingga kini belum ada yang ditangkap. Ada 12 orang yang dikejar, mereka melarikan diri ke hutan. Sulitnya pengejaran disebabkan oleh beberapa masalah seperti medan yang sulit, komunikasi radio yang susah. Untuk mengatasi hal tersebut sudah disediakan satu helikopter dan 15 motor trail untuk melakukan pengejaran," jelas Paiman kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo No 3 Jakarta Selatan, Rabu (20/10). Paiman mengatakan, kepolisian mengejar salah satu nama tersangka yang sudah diketahui identitasnya. Dia dikenal bernama AJ. Dia adalah salah satu dari 12 provokator massa untuk melakukan penyerangan. Paiman juga menegaskan, situasi di Mamasa sudah kondusif. Polisi setempat sudah menggelar operasi mandiri yang melibatkan 362 personel Polri ditambah 30% TNI. Sedangkan mengenai korban akibat konflik pemekaran wilayah, Paiman mencatat 3 orang tewas. Dua tewas akibat bentrokan. Satu balita juga menjadi korban akibat terjatuh dari gendongan ibunya saat bentrokan. Sebagai upaya mencegah konflik yang sama, pada masa mendatang Kecamatan Aralle, Tabulahan, dan Mambi atau biasa disebut ATM, akan dipersiapkan menjadi kabupaten. Hal itu diungkapkan Oentarto Sindoeng Mawardi, Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), di Kantor Gubernur Sulsel, usai pertemuan dengan 5 bupati di kabupaten di Sulbar, Rabu (20/10). "Jadi Aralle, Tabulahan, dan Mambi akan kami jadikan kabupaten persiapan. Di dalam undang-undang, sebelum menjadi kabupaten, harus terlebih dahulu menjadi kabupaten persiapan, " terang Oentarto. Sejak Mamasa dimekarkan menjadi kabupaten sejak tahun 2003, wilayah ATM memang sering dilanda konflik, karena perseteruan antara pihak propemekaran dan kontrapemekaran. (dtc-58t) |