logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Oktober 2004 NASIONAL
Line

''Kado Perkawinan'' untuk SBY-Kalla

OCHA (3), senyum-senyum saja di bawah payung yang menaunginya dari terik matahari di depan Gedung DPR-MPR Senayan, Rabu (20/10) siang. Duduk di atas pagar pembatas trotoar dipegangi ibunya, gadis kecil itu terlihat genit dengan kepala terbalut bandana kain bertuliskan ''Tolak Militerisme''. Sesekali dia tertawa ketika fotografer atau kamerawan memintanya berpose.

Berbeda dengan adik laki-lakinya yang bernama Al Ashiyi yang tak pernah sedikit pun tertawa. Bayi laki-laki 4 bulan itu terlihat kepanasan dan selalu meronta-ronta dalam gendongan tantenya. Padahal, sama seperti kakaknya, dia terlihat ''hebat'' dengan bandana bertuliskan ''Tolak Militerisme''.

Adakah kedua anak kecil itu tahu makna tulisan di bandana yang dipakainya? Tanyakan saja itu pada ibunya yang membawa kedua anaknya ikut berdemonstrasi bersama sekitar 30 orang lainnya. Tak perlu juga menanyakan kepada Ocha makna kalimat-kalimat di karton yang selalu diacung-acungkannya, ''Cabut Status Darurat di Aceh, Hentikan Darurat di Aceh.''

Ketika ditanya, kenapa membawa-bawa anak dalam demonstrasi, ibunya cuma bilang, ''Ini anak Aceh. Kami dari Aceh.'' Singkat jawabannya. Namun yang pasti, dia tergabung dalam ''Aksi Bersama Rakyat Aceh'' yang melibatkan kelompok-kelompok seperti Ikara, Sira, Jempa Mirah, dan lainya.

Itu bukan satu-satunya kelompok demonstran yang memberi ''ular-ular'' di depan gedung DPR/MPR, tepat pada saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan M Jusuf Kalla (MJK) resmi dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI masa bakti 2004-2009. Dua kelompok lainnya yang datang terlebih dahulu adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pusat dan Himpunan Masyarakat untuk Hukum dan Hak Asasi Manusia (Humanis Indonesia).

Bila kemarin ruang Sidang Paripurna MPR diibaratkan tempat resepsi ''perkawinan'' SBY dan JK dengan penghulu Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan dihadiri para anggota MPR, maka jauh di luar gedung yang tentu saja tak terlindung kesejukan, ada beberapa ''penasihat tak resmi'' yang memberi ular-ular. Bedanya, kalau pemberi ular-ular, lazimnya berbicara yang baik-baik tentang mempelai, mereka yang berorasi di depan gedung itu lebih banyak menjeritkan ancaman.

''Kami tak akan membiarkan pemerintahan SBY selama lima tahun. Cukup 100 hari saja. Dia harus membuktikan untuk menangkap para koruptor,'' teriak orator dari kelompok Humanis Indonesia di sisi kiri lewat megafon.

Di dalam kelompok KAMMI yang berorasi dari atas mobil pikup, orator tersebut berteriak lantang, ''Kami tak mau ada antek IMF di Kabinet SBY. Kami mau menteri-menteri yang profesional, anti-Orba, anti-status quo. Pemerintah baru harus membuktikan itu selama 100 hari pertama.''

Teriakan itu langsung disambut para demonstran KAMMI yang mengikatkan kain di kepala mereka dengan tulisan ''Oposisi SBY''. Mereka berloncat-loncatan dengan berirama.

Ya, sejak beberapa hari terakhir, saat SBY memanggili beberapa orang yang kemungkinan duduk dalam kabinetnya, ada desakan untuk tak memanggil calon menteri yang punya hubungan dengan International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional. Penolakan terhadap IMF juga tampak pada demonstrasi yang dilakukan KAMMI. Ambil contoh, beberapa poster yang diacungkan peserta bertuliskan, ''Say stop to IMF'' atau ''Puasa tanpa KKN, IMF, kemewahan, jadi lebih bermakna.''

Kalau kelompok yang disebut pertama mengusung persoalan militerisme dan konflik di Aceh, dan KAMMI mengusung penolakan pada IMF, maka Humanis Indonesia mendesakkan tuntutan yang lebih spesifik. Mereka menuntut pengadilan terhadap Ginanjar Kartasasmita yang disebut sebagai tersangka skandal TAC antara Pertamina dan PT Ustraindo Petrogas. ''SBY harus buktikan janjinya saat kampanye. Dalam 100 hari, dia harus mengadili Ginanjar.''

Betapa beratnya menjadi presiden dan wakil presiden. Pada hari bahagianya saja mereka mendapat ular-ular yang tidak mengenakkan.

Sementara itu, mereka berdua tak boleh bersikap seperti Ocha atau adiknya. Meskipun dia mengenakan atribut demonstrasi yang ''sangar-sangar'' dan dia berada di tengah-tengah para orator yang berteriak-teriak lantang penuh wacana rumit, Ocha cukup senyum-senyum saja dan merengek meminta minum kepada ibunya ketika kecapaian. (Saroni Asikin, Setiawan HK-69n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA