logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Puasa, Metode Pendidikan Paling Sistematis

TIDAK ada pungkasan dalam pendidikan. Tetapi bila ada metode pendidikan yang paling sistematis, barangkali puasa yang pertama kali wajib disebut. Tentu saja bukan ijazah yang disasar, melainkan derajat muttaqin. Yakni, posisi orang menemukan hikmah hidup dan ketenangan.

Kepandaian memaknai puasa itulah yang menjadi kunci utama. Barangkali itu juga yang mengilhami seorang cendekiawan besar sekaliber Imam Gozali mencapai ketenangan dengan berpuasa. Sepanjang sisa usianya, mantan Rektor Universitas Baghdad itu menjalani hidup sebagai seorang sufi.

Metode sistematis dan berkelanjutan, menurut H Affandi Ichsan yang semalam menjadi penceramah dalam Tarawih Keliling Badan Amalan Islam (BAI) di teras Gedung DPRD Jateng itu, terkonsep dalam tripel puasa, yakni puasa jiwa, harta, dan raga. Puasa jiwa berarti kemampuan untuk mengendalikan diri, menjaga kebaikan, berpikir positif, sabar, dan menghilangkan segala hal negatif.

Sedangkan puasa harta berfungsi membangkitkan rasa peduli terhadap fakir miskin, anak yatim, kaum duafa, dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. "Nah kalau badani (raga) yang berpuasa, berarti mempuasai juga langkah atau kaki supaya tidak pergi ke tempat-tempat maksiat. Menjaga untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, apalagi milik negara," ujarnya yang langsung ditepuktangani jamaah.

Kepekaan hati itu bisa terus terjaga dengan zikir. Mengucap kalimat zikir seperti takbir 'Allahu Akbar', tahlil 'La illaha illallah', tasbih 'Subhanallah' dan tahmid 'Alhamdulillah' ibarat berkomunikasi dengan Sang Pencipta. "Jika kita selalu berzikir, Tuhan pun akan mengingat kita seperti halnya kita mengingat Dia," jelasnya.

Secara ilmiah, kedekatan spiritual dengan Allah itu berkorelasi dengan pikiran yang sehat, seperti telaah Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO). Orang yang berkomunikasi dengan Yang Esa menurut WHO adalah pribadi yang mempunyai mental bagus. Bentuk pahala zikir itu umpamanya terlihat dari ketenangan berpikir, kehendak yang tidak ngaya , perasaan tidak dipenuhi rasa takut, khawatir, dan terburu-buru. (Renjani -58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA