logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Menggugah Kesadaran Budaya

Oleh: Eko Budihardjo

SUNGGUH amat mengejutkan bagi orang Indonesia membaca berita Asahi Shimbun yang juga dikutip oleh Koran Jakarta Post edisi 16 Oktober 2004 bahwa dalam tahun 2003 saja tercatat 34.427 orang Jepang meninggal karena bunuh diri. Itu adalah angka tertinggi di dunia, mestinya masuk Murj (Musium Rekor Jepang). Bayangkan, setiap hari rata-rata 97 orang bunuh diri, termasuk anak-anak sekolah. Bahkan ada 34 orang yang bunuh dirinya kangsenan, bersama-sama, lewat internet.

Judul beritanya "Net Suicide: A Heartbreaking Trend". Para peselancar internet di Jepang dengan mudah membuka situs yang berisi pesan seperti, "Cara Mudah untuk Bunuh Diri," atau "Mencari Teman untuk Bunuh Diri Bersama", atau "Bagi Mereka yang Bosan Hidup" atau lontaran keluhan seperti "Aku Tak Pernah Beruntung Sejak Lahir. Aku Ingin Mati Saja. Tapi Ngeri Sekali untuk Mati Sendirian. Apakah Ada Seseorang yang Mau Menemani untuk Bunuh Diri Bersama?"

Auudzubillaahminzaalik

Menurut Prof Masaaki Noda, guru besar psychopathology dari Universitas Kyoto, musibah atau tragedi semacam itu terjadi karena berbagai sebab. Antara lain karena kian pudarnya tata nilai dan budaya lokal, berubahnya pola keluarga dari extended family yang terdiri atas beberapa generasi menjadi nuclear family yang hanya satu generasi, merebaknya apa yang lazim disebut dengan technoplosion alias ledakan teknologi dan infoplosion alias banjir informasi. Saya jadi ingat slogan ponsel Nokia, "Connecting People" yang kemudian dikecam dengan tudingan "Breaking up Families".

Merebaknya ponsel atau handphone (HP) ternyata berdampak negatif berupa lenyapnya kontak pribadi dan hilangnya sentuhan yang menumbuhkan rasa dicinta, rasa aman, rasa terlindung.

Orang Barat pun menyebutkan bahwa anak-anak kecil banyak yang mengidap lapar-sentuhan atau skin hunger. Akibatnya, banyak yang depresi dan putus asa.

Padahal dalam Alquran Surat Hadiid ayat 20 disebutkan, Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Kemudian dalam surat Al Ankabuut ayat 64 dinyatakan bahwa "Kehidupan dunia hanyalah senda gurau. Kehidupan akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan".

Untuk menikmati kehidupan dunia yang ibarat panggung sandiwara ini perlu lebih digugah kesadaran budaya. Tanpa nuansa budaya, kehidupan ini akan terasa gersang, tunggal-rupa (monoton), membosankan, tidak menyenangkan. Dengan peningkatan kadar kesadaran budaya, manusia akan menjadi lebih bergairah dalam kehidupan, menikmati variasi seperti mozaik yang serbaindah.

Coba direnungkan, cara menyampaikan ucapan "Selamat Berpuasa" pada bulan Ramadan pun ternyata menjadi indah karena variasi yang seolah tak ada batasnya.

Sekadar contoh, Mas Adi Nugroho, Humas Undip yang Jawa ndeles, kirim short message service (SMS) sebagai berikut. "Jeng Juminten nggelar klasa, dodol sega ning ngarep gapura. Punika wulan pasa, kula sakulawarga nyuwun ngapura"

Teman dari Betawi lain lagi ucapannya.

"Naményé juga manusié, maté kadang salé liat, mulut kadang salé katé, hati kadang salé kiré. Mohon maap yé, biar puasé kité adé berkahnyé".

Prof Muladi, mantan Rektor Undip, tak mau kalah, kirim pesan yang puitis, "Bersihkan lidah dengan berzikir/Bersihkan wajah dengan berwudlu/Sucikan Ramadan dengan saling memaafkan/Semoga ibadah kita mendapat barokah dari-Nya".

Mas Harsono, Ketua Dewan Keseniaan Klaten, mengirim pesan yang diperoleh dari kiai penasihat spiritualnya dari pondok pesantren, "Marhaban ya Ramadan, Syahrul Quran, Washiyam, Wasshaba, Waddakíwah, Wal ukhuwwah, Waljihad, La'allakum Tattaqun".

Konon artinya adalah agar dalam bulan Ramadan ini sesuai dengan petunjuk dari Alquran, kita mesti berpuasa, membela kebenaran, berdakwah, menjalin silaturahmi/persaudaraan, berjihad membela agama, semoga diberkahi Allah menjadi orang-orang yang bertakwa.

Rektor UGM Prof Sofian Effendi yang selalu bercanda memanggil saya dengan sebutan Ndoro Kanjeng, kirim SMS kombinasi bahasa Arab dan Indonesia, Ass ww Taqoballahu mina waminkum, Marhaban ya Ramadan. Dengan segala kerendahan hati izinkan kami meminta maaf lahir dan batin. Wass ww.

Presiden BEM Sdr Aris tak mau kalah berpuisi, Sejenak tinggalkan keduniawianmu/Tuk sucikan jiwa menuju ridha IIahi/Selamat menunaikan puasa Ramadan/Semoga ketakwaan dapat kita raih/Maafkan atas segala kesalahan.

Bambang Set, Ketua Dewan Kesenian yang juga seniman Banyumas, mengirim pesan yang juga amat puitis, "Titian putih nuju hari bahagia umat/Marhaban ya Ramadan/Sahrul Mubarak/ Menyambung kasih merajut cinta/Beralas ikhlas beratap doa/Semasa hidup bersimbah khilaf/Mengharap diri dibasuh maaf".

Begitu indah pesan-pesan yang sempat saya kutip itu. Bayangkan bila para petinggi di puncak pemerintahan memiliki kepekaan budaya serupa.

Dengan tergugahnya kesadaran budaya mereka, dapat diharapkan perubahan yang bermakna dalam pembangunan bangsa, mengubah derita rakyat jelata.

Seperti celotehan Remy Silado dalam puisi-pusi mbeling-nya (dengan improvisasi).

Punggawa keraton berebut ingin naik kereta kencana/Para prajurit di medan laga berebut ingin dapat tanda lencana/Rakyat jelata tak kunjung habis tertimpa bencana.

Doa kala sadar/Dosa kala lupa/Tempat pesawat di hanggar/Tempat seniman di sanggar/Tempat sembahyang dilanggar.

Semoga kesadaran budaya kita tergugah, dunia akan tampak kian indah. (78n)

Eko Budihardjo, Rektor Undip dan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA