logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Berfoto Bersama "Indonesia 1"


FOTO BERSAMA: Mobil dinas presiden, Mercedes Benz "Indonesia 1", dimanfaatkan para tamu sebagai latar belakang untuk foto bersama. Mobil diparkir di halaman Gedung DPR/MPR, tepatnya depan Gedung Nusantara III.(79) - SM/Setiawan Hendra Kelana

TIDAK bisa berfoto bersama presiden yang baru saja dilantik, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bukan jadi soal bagi sejumlah tamu yang hadir dalam pelantikan tersebut, kemarin. Mobil yang akan dijadikan kendaraan dinas presiden pun tampaknya cukup memuaskan mereka untuk dijadikan latar belakang foto bersama.

Itu sedikit gambaran menarik yang ada di sela-sela acara sidang paripurna pengambilan sumpah/janji Susilo Bambang Yudhoyono dan M Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI masa bakti 2004-2009 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Rabu (20/10).

Mobil Mercedes Benz dengan pelat nomor "Indonesia 1" yang akan menjadi kendaraan dinas presiden itu menjadi sasaran sejumlah tamu yang berada di luar ruang sidang. Semula, ketika datang ke gedung DPR/MPR, Mercedes Benz tersebut bernomor B-1086-BD. Namun begitu SBY resmi diambil sumpahnya sebagai presiden RI, pelat nomor diganti dengan "Indonesia 1".

Pergantian nomor mobil sang presiden yang diparkir tepat di depan Gedung Nusantara III itu langsung menarik perhatian. Kebetulan di gedung tersebut banyak orang yang mengikuti proses pelantikan, namun tak masuk ke dalam ruang sidang paripurna.

Mereka cukup menonton dari layar televisi yang disediakan di gedung tersebut. Kebetulan beberapa televisi swasta dan TVRI menggelar siaran langsung prosesi bersejarah bagi Bangsa Indonesia itu. Mereka tampaknya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat mobil presiden itu diparkir. Apalagi sejumlah aparat yang berjaga di mobil presiden itu tak melarangnya.

Tak sedikit wanita yang ingin difoto dengan latar belakang mobil mewah tersebut, baik sendirian maupun dengan rekannya. Bahkan sejumlah fotografer pun tak mau ketinggalan di tengah kejenuhan menunggu prosesi sidang. Satu per satu mereka bergiliran diambil gambarnya. "Kapan lagi bisa foto bersama mobil presiden," celetuk seorang wanita muda yang langsung minta tolong teman laki-lakinya untuk mengambilkan gambar dan segera mengambil sikap berdiri di bagian depan kendaraan dinas SBY tersebut.

"Nomornya (Indonesia 1) jangan ditutupi, percuma dong," pinta seorang laki-laki yang diminta mengambil gambar wanita tersebut. Wanita itu pun segera bergeser sehingga tulisan "Indonesia 1" terlihat.

"Ulah" beberapa orang yang cinta kepada presidennya itu dibiarkan begitu saja oleh aparat keamanan yang berjaga. Yang penting, jangan sampai mobil tersebut lecet terkena goresan benda yang dibawa saat nampang bersama "Indonesia 1".

Penuh Keakraban

Kalau kejadian di atas berlangsung pada saat SBY dan Jusuf Kalla mengucapkan sumpah di dalam gedung, beberapa peristiwa kecil yang menggelikan dan penuh keakraban malah terjadi pada saat sang presiden dan wakilnya serta beberapa tokoh lain hendak memasuki ruang sidang.

Pada pukul 09.00, saat Taufik Kiemas keluar dari mobil dan berjalan memasuki ruang sidang, deretan jurnalis yang ada di sisi kanan serentak menyeletuk, "Ssst, ada Oom TK. Hai Oom TK, melambai ke sini dong!"

Taufik Kiemas yang oleh mereka diakrabi dengan sapaan Oom TK pun menoleh, tersenyum, dan melambai. Pada saat itu pula, ada yang melontarkan pertanyaan jarak jauh, "Oom mana istrinya?" Tentu saja suami mantan presiden Megawati Soekarnoputri itu tak mendengar dan tak ada alasan baginya untuk menjawab, mengapa sang istri tak menghadiri sidang pelantikan.

Hal semacam itu sering terjadi. Saat Surya Paloh masuk, dia juga diteriaki, "Oom Brewok, ke sini dong!" Lelaki yang memelihara brewok lebat itu menoleh dan tersenyum. Kadang kala aksi itu berkesan "kurang ajar". Bayangkan saja, ketika Menlu Australia Alexander Downer berjalan cepat ke ruang sidang, dia juga diteriaki seolah-olah orang asing itu adalah saudara atau teman karibnya. "Oom Downer, Oom Downer, Mister..." Lelaki itu sempat menoleh dan tersenyum sedikit sebelum mempercepat langkahnya masuk ke ruang sidang.

Kepada sang presiden dan wakil presiden pun mereka begitu. Saat Jusuf Kalla masuk didampingi istrinya pun mereka teriaki, "Oom JK, Oom JK!" Sang Wapres pun ramah melambai. Hanya untuk SBY, panggilannya agak formal sedikit. Ketika sang presiden turun dari mobil, sekitar pukul 09.15 dan siap-siap disambut Hidayat Nur Wahid, para jurnalis itu berteriak, "Pak SBY, Pak SBY!" Presiden tampan itu pun melambai ke semua kerumunan orang yang tersebar di luar gedung pelantikan.

Hasyim Muzadi yang datang lebih dulu juga mendapat kehormatan "diteriaki". Namun nasibnya seberuntung sang presiden. Ia dipanggil, "Pak Hasyim, Pak Hasyim!". Tapi agaknya tak semua jurnalis yang memenuhi bagian kanan pintu masuk tahu bahwa sebenarnya mantan cawapres itu keluar lagi dan lari ke mobilnya. Kenapa? Apa dia tak jadi ikut pelantikan seperti pasangan capresnya? Ah, tidak. Dia cuma lupa membawa undangan dan tentu saja tak diperkenankan masuk meskipun para penjaga pintu itu pasti tahu siapa yang datang. Hasyim Muzadi harus lari ke mobilnya lagi untuk mengambil undangan yang tertinggal di mobilnya.

Komedi-komedi kecil itu, yang jauh dari kesan formal, tentu saja penting. Bayangkan saja apabila acara seformal pelantikan presiden dan wakil presiden yang serbaformal dan protokoler tak diimbuhi sisi-sisi komedis? Pasti bangsa ini tak pernah bisa tertawa. Juga sang presiden dan wakilnya yang tengah ditunggu seabrek beban. (Setiawan Hendra Kelana, Saroni Asikin-69n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA