| Kamis, 21 Oktober 2004 | SEMARANG |
Industri Harus Berbasis AgroORIENTASI ke sektor industri tak semestinya menafikan potensi yang telah ada. Artinya, bila sektor pertanian di Demak masih kental, potensi ini bisa dikembangkan sebagai basis industri. Pada gilirannya, hal itu justru akan memunculkan karakteristik Demak dibandingkan dengan kota investasi lain. Potensi tanaman pangan yang dominan di Demak saat ini adalah padi dan jagung. Dengan total luas panen 91.719 ha, total produksi padi bisa mencapai 510.879 ton dengan pertumbuhan 4,6% setahun. Adapun produksi jagung mencapai 65.683 ton pada lahan panen seluas 17.646 ha dengan pertumbuhan sangat fantastis sekitar 76,7% dari tahun lalu. Dua komoditas potensial itu menurut pandangan pangamat ekonomi dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Ibnu Khajar bisa dijadikan sebagai potensi investasi industri manufaktur. "Misalnya, pendirian pabrik yang diizinkan adalah perusahaan yang bahan dasar produksinya jagung," tukasnya. Cara itu akan efektif untuk menggerakkan dua sektor sekaligus, pertanian dan industri. Di samping pengusaha mudah mendapatkan bahan baku murah, penyerapan hasil pertanian di Demak juga dapat lebih tinggi. Selain pertanian, beberapa hasil perkebunan lain yang tergolong potensial adalah kapas dan kapuk randu. Komoditas kapas yang kuota produksinya mencapai 11,12 ton per tahun misalnya, dapat dimanfaatkan untuk memancing investasi di sektor tekstil yang masih diminati pengusaha Jateng, selain mebel. Pengembangan investasi itu, lanjut Ibnu, seharusnya tak hanya terpaku pada apa yang dimiliki Demak saat ini. Penurunan populasi sapi dan bebek di beberapa daerah sebenarnya bisa dimanfaatkan pengusaha lokal. Sebab, jenis hewan ternak itu sekarang telah menjadi bahan dasar di banyak rumah makan di berbagai kota besar seperti Semarang. Sebagai kota pantai, Ketua Program Magister Manajemen (MM) Unissula itu menilai, posisi stragetis kota yang mulai dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata Islam (Islamic tourism) tersebut sangat menguntungkan. Dengan ketersediaan ikan yang rata-rata mencapai 1.200-5.635 ton per tahun itu, di sepanjang jalan menuju Demak bisa didirikan rumah makan berbahan dasar ikan, baik ikan darat maupun ikan laut. Meski terbatas, perkembangan investasi di Demak sebenarnya telah berjalan. Di sektor industri, ada sekitar 60 perusahaan besar dan menengah di bidang tekstil, elektronika, kimia, pembuatan kertas, dan agroindustri. Nilai investasinya bervariasi dari Rp 5,2 miliar sampai Rp 462 miliar. Adapun industri kecil ada sekitar 7.400 perusahaan dengan niali investasi berkisar antara Rp 360 juta - Rp 8 miliar. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Demak Prajitno mengatakan, Demak saat ini tengah mengkaji berbagai kepentingan yang mengarah ke investasi. Di bidang perikanan dan kelautan misalnya, pihaknya tengah menawarkan budi daya udang dan bandeng yang masih dikelola secara tradisional. Untuk menangani investasi yang masih relatif baru, Pemkab membentuk Subdinas Penanaman Modal yang berada di bawah Disperindag. Lembaga ini bertugas memfasilitasi dan membantu pemerintah lebih tinggi bila ada permohonan investasi. (Renjani PS, Arwan P-64n) |