| Kamis, 21 Oktober 2004 | BANYUMAS |
Penunjang Terminal Bus Perlu Segera DisiapkanPURWOKERTO-Terminal bus baru Purwokerto diperkirakan jadi dan dioperasikan Agustus 2005. Namun persiapan pengoperasian dimulai akhir tahun ini, yang meliputi peningkatan Jalan Soewatio, penyediaan fasilitas penunjang di terminal, dan pembentukan tim pemindahan pedagang. Hal itu dikatakan Ketua Komisi B DPRD Sutikno saat meninjau pembangunan terminal bus di Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan, bersama anggota komisi, kemarin. Mereka ditemui Direktur PT Krakatau Indah, H Nassir Abdullah. Hadir pula Kepala Dinas Cipta Karya Ir Susanto, Kepala Dinas Bina Marga Ir Haryanto Budiman, serta Kepala Dinas Perhubungan dan LLAJ Drs Heru Santoso. Jalan Soewatio, kata Sutikno, merupakan jalan masuk ke terminal. Jalan itu kurang layak dilalui sekian banyak angkutan umum. Fasilitas di dalam terminal juga perlu disiapkan. Areal terminal itu sangat luas, yaitu 10,2 ha, sehinga perlu penanganan khusus. Tak bisa seperti pengelolaan terminal lama yang hanya 1,8 ha. Pengadaan fasilitas penunjang harus dianggarkan dalam APBD 2005. Rancangan APBD akan dibahas akhir tahun ini. ''Dinas harus menghitung kebutuhan nyata sarana dan prasarana penunjang. Karena itulah dinas terkait kami ajak dalam kunjungan kerja ini,'' katanya. Untuk memindah pedagang dari terminal lama ke baru akan dibentuk tim yang terdiri atas dinas terkait dan legislatif. Kendaraan Sampah Menurut laporan investor, kata dia, pembangunan terminal sudah 20%. Setelah dicek memang benar. Kerangka atap terminal mungkin dipasang November, sehingga volume pekerjaan hampir 80%. Volume pekerjaan kerangka atap saja hampir 60%. Nasir mengemukakan sebagian besar atap bangunan terminal genting keramik. Luas atas total 14.000 m2, yang meliputi bangunan utama, emplasemen, masjid, dan kantor. Atap tempat penitipan sepeda motor memakai asbes. Susanto mengatakan, untuk mengumpulkan sampah di dalam terminal harus memakai kendaraan. Jika jalan kaki, petugas keberatan. ''Kami membeli enam unit sepeda motor roda tiga yang memiliki bak,'' katanya. Heru Santoso menuturkan untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan terminal perlu lamput sorot dari menara. Jika ada orang kencing di samping bus, misalnya, bisa ditegur dan diminta buang air di WC. Pembangunan tahap III terminal bus itu membutuhkan biaya Rp 38,3 miliar dan dilaksanakan PT Krakatau Indah dengan sistem bangun-serah. Pemerintah Kabupaten membayar dengan mengangsur selama tiga tahun anggaran mulai 2004. Staf PT Krakatau Indah, FX Sutopo, menyatakan untuk membeli batu bata harus membayar dulu ke perajin. ''Karena proyek lain sedang ramai, kebutuhan batu bata pun meningkat.'' (bd-86) |