| Selasa, 19 Oktober 2004 | INTERNASIONAL |
Raja Sihamoni Temui Presiden Hu JintaoBEIJING - Pangeran Sihamoni, raja baru Kamboja, bertemu dengan Presiden China Hu Jintao di Beijing, Senin kemarin. Pertemuan itu tercatat sebagai tugas pertamanya sebagai raja, sebelum pulang ke negaranya, Rabu besok. Sihamoni, mantan penari balet dan duta UNESCO, dipilih untuk menggantikan ayahnya, Norodom Sihanouk yang sudah berusia 80-an tahun. Sihanouk secara mengejutkan menyatakan turun takhta, beberapa hari lalu, dengan tujuan menciptakan suksesi damai sebelum dia meninggal dunia. ''Pertemuan ini menunjukkan China masih mempertimbangkan Kamboja sebagai salah satu mitra penting di Asia Tenggara,'' kata Pangeran Ranariddh, kakak tiri Sihamoni, yang kini menjabat sebagai ketua Majelis Nasional (parlemen), kepada para wartawan di Phnom Penh. Raja Kamboja saat ini hanyalah pemimpin simbolis tanpa kekuasaan nyata. Namun dia diperhitungkan, karena sebagian besar rakyat Kamboja masih memuja keluarga kerajaan. Kerajaan dipandang sebagai kunci stabilitas di negara Asia Tenggara tersebut, yang terpecah belah secara politik. Sihanouk telah lama menjalin hubungan erat dengan China. Di negara komunis itu pula dia mendapat perawatan medis untuk sakit jantung dan livernya. Beijing merupakan donatur utama bagi Kamboja, yang hampir 40 persen penduduknya hidup miskin. Lao Mong Hay, penasihat hukum Pusat Pembangunan Sosial (sebuah lembaga nirlaba Kamboja), mengatakan dia berharap hubungan itu tetap kuat di bawah kepemimpinan Sihamoni. ''Saya menduga tidak akan ada perubahan apa pun. Sihamoni lebih suka mengikuti ayahnya, yang punya hubungan erat dengan para pemimpin China,'' katanya. Tetap Netral Sihamoni, yang akan dinobatkan pada 29 Oktober, mengatakan dia akan mempertahankan kebijakan netral negaranya. Dia juga masih harus memulihkan keadaan negaranya dari sisa-sisa kekejaman rezim Khmer Merah, yang melakukan genosida pada 1970-an. Partai Rakyat Kamboja yang berkuasa menang dalam pemilu lebih dari setahun lalu. Namun partai pimpinan PM Hun Sen itu gagal meraih mayoritas dua pertiga suara yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan sendiri. Beberapa bulan kemudian terjadi kebuntuan, sebelum pemerintah baru terbentuk Juli lalu. Saat itu Hun Sen bersumpah untuk menjalankan masa jabatan lima tahun berikutnya. Sihanouk tampak kecewa atas pertikaian politik tersebut. Para analis mengatakan Sihamoni butuh panduan dari ayahnya untuk melewati arena politik Kamboja yang suram. Lao Mong Hay mengatakan raja baru itu juga dapat memberikan peluang bagi perubahan. ''Saya akan menasihati dia untuk meningkatkan hubungan dengan pemerintah-pemerintah Barat. Dia masih muda, dan ini merupakan peluang bagi negara dan rakyat kami,'' katanya. Sihanouk telah menciptakan peran bagi dirinya sebagai simbol persatuan nasional dalam 10 tahun terakhir, setelah mengklaim kembali mahkota tersebut menjelang pemilu yang diselenggarakan oleh PBB pada 1993. Dia hanya menjadi boneka dibawah rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada 1970-an, dan kemudian hidup di pengasingan pada 1980-an. Dia, yang akan berusia 82 tahun pada 31 Oktober, mengatakan akan kembali ke Kamboja untuk hidup di Kota Siem Reap, dekat candi Angkor Wat yang terkenal.(rtr-ben-30) |