| Selasa, 19 Oktober 2004 | INTERNASIONAL |
Serdadu Inggris Jadi Tumbal BushLONDON - Inggris, kemarin, mempertimbangkan permintaan AS untuk memindahkan tentara ke wilayah Irak yang lebih berbahaya. Satu langkah politik yang kembali menyulut amarah tentang dukungan PM Tony Blair bagi perang di negara Teluk itu. Para pejabat mengatakan Menhan Geoff Hoon akan mengonfirmasikan permintaan dalam ''pernyataan penyokong'' pada parlemen. Namun dia menekankan bahwa dia belum mengambil keputusan. ''Permintaan itu sedang dipertimbangkan keuntungannya,'' kata juru bicara Kementerian Pertahanan. Dia menambahkan bahwa keputusan yang mungkin diambil akan didasarkan pada alasan operasional. Tentara Inggris hingga kini hanya beroperasi di daerah Basrah yang relatif tenang di Irak selatan, tempat sekitar 8.000 tentara Inggris ditempatkan. Sejak perang Irak dimulai, 68 tentara Inggris tewas, sedangkan tentara AS yang tewas melebihi 1.000 personel. Para pengamat menyatakan lebih dari 650 tentara Inggris mungkin dipindah ke bagian utara sebagai respons atas permintaan AS guna melindungi satuan-satuan AS yang memerangi pasukan perlawanan di Kota Fallujah dan tempat lain. Langkah yang paling mungkin adalah mengerahkan kembali tentara dari resimen Black Watch dari Basrah ke daerah-daerah yang dikuasai AS di selatan Bagdad. Para komentator menduga kota-kota bergolak seperti Iskandariyah, Latifiyah, dan Hilla sebagai tempat tujuan yang mungkin. Para politikus oposisi menuduh Blair siap mengorbankan nyawa tentara Inggris demi Presiden George W Bush, yang sikapnya di Irak merupakan isu utama pemilihan presiden November mendatang. Tema utama serangan kandidat presiden dari kubu Demokrat terhadap Bush adalah pendekatan sepihaknya dalam menginvasi Irak telah menyebabkan tentara AS menanggung sebagian besar beban militer pascaperang. Demo di London Puluhan ribu demonstran turun ke jalan-jalan di London pusat, Minggu, untuk memprotes perang Irak ketika PM Blair berusaha menangkis kecaman di dalam negeri atas invasi ke Irak. Puluhan ribu demonstran memadati jalan-jalan untuk pawai protes tersebut, yang dimulai di Lapangan Russel dekat museum Inggris. Penyelenggara protes itu, Koalisi Hentikan Perang, memperkirakan, pawai untuk menuntut penarikan semua pasukan dari Irak itu diikuti 30.000 orang, lebih kecil dari angka perkiraan sebelumnya 50.000. Demonstran dari seluruh dunia membawa spanduk-spanduk dan membunyikan peluit ketika berpawai ke arah Lapangan Trafalgar, tempat pawai massal itu berlangsung. ''Pasukan keluar,'' tulis salah satu spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa. ''Blair harus mundur,'' bunyi spanduk lain. Pawai Minggu itu merupakan yang terakhir dari serangkaian demonstrasi yang diadakan Koalisi Hentikan Perang sebelum dan sesudah invasi yang dipimpin AS dengan dukungan Inggris ke Irak pada Maret 2003. Demonstrasi itu diadakan bertepatan dengan berakhirnya pertemuan tiga hari Forum Sosial Eropa yang diadakan di London. Pawai tersebut juga dilakukan setelah pekan kecaman terhadap Blair, yang dituduh di parlemen Rabu lalu telah salah menafsirkan intelijen mengenai Irak untuk membenarkan perang. Kementerian Luar Negeri Australia menolak usul bahwa negara itu mengirim lagi tentara tambahan ke Irak untuk membantu misi PBB di sana. Pemerintah Australia mengatakan pihaknya telah didekati secara informal untuk membantu keamanan bagi misi bantuan PBB di Irak. Namun, seorang jubir kementerian luar negeri Australia mengatakan Australia telah membuat satu komitmen substansial ke Irak bahwa Australia tidak akan mengirim tentara tambahan.(rtr-ant-niek-46) |