logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 19 Oktober 2004 BANYUMAS
Line

Keong Kraca Dicari-cari saat Ramadan

INGIN tahu rasa kraca, makanan khas Banyumas? ''Gurih dan nikmat,'' ujar Rahmad (40), Minggu (17/10) petang. Warga Purbalingga itu sedang rekreasi bersama keluarganya di Purwokerto. Namun saat hendak pulang keburu buka puasa.

Mereka pun buka puasa di perjalanan dan meneruskan shalat magrib bersama di Masjid Agung Baitulsalam, alun-alun Purwokerto, di utara pasar. Setelah itu mobil Kijang kapsul biru mereka meluncur ke timur untuk mencari warung penjual kraca.

Alasan mereka soal kenikmatan kraca memang beralasan. Kraca adalah perpaduan keong sawah yang direbus dengan bumbu khusus sehingga memberikan cita rasa khas. Keong di daerah lain mungkin mudah didapat. Namun kekhasan rasa kraca hanya bisa diperoleh di Banyumas.

Saat Ramadan, penjual kraca ibarat jamur pada musim hujan. Menjelang Lebaran pun permintaan meningkat tajam. Sebab, para pemudik ramai-ramai menikmati kraca. Begitu pula orang-orang yang singgah di Purwokerto.

Hasilnya cukup menjanjikan untuk ukuran penjual makanan dan minuman ringan pelengkap buka puasa. Pada hari biasa sebenarnya ada, meski sulit memperolehnya.

Penjual antara lain di kompleks Pasar Pereng sekitar alun-alun, utara Jembatan Banjaran Jalan Jenderal Soedirman barat, jalan raya Bobosan, dan Kauman lama. Juga di sejumlah warung di pinggiran kota. Ada penjual yang setiap tahun selalu berjulan, juga pula wajah baru.

''Kami berjualan untuk mengisi kas organisasi,'' tutur Dapo dan Arin, dua remaja Bantarsoka anggota Pencinta Alam Japala. Mereka berjualan di dekat pertigaan perlintasan KA stasiun.

Dapo menuturkan hanya menjualkan. Dia memperoleh kraca dari warga sekitar. Sebungkus kraca dalam plastik kecil Rp 1.000-Rp 1.500. ''Satu bungkus kami ambil untung Rp 500. Ya, lumayan bisa nambah uang khas sekaligus cari hiburan sebab yang lewat banyak,'' kata Arin.

Saat awal Ramadan seperti sekarang setiap penjual bisa menghabiskan kraca antara Rp 30 kg dan 70 kg/hari. Itu terus ber-tambah saat mendekati Lebaran.

Ny Tini (40), warga Banjaran, berjualan di dekat Jembatan Banjaran. Dia menuturkan sehari rata-rata menyediakan sekitar 40 kg dan selalu habis. Sebelum buka puasa pun banyak pembeli tak kebagian. ''Setiap hari saya tambah juga habis.''

Kamlani (45), warga Kauman RT 2 RW 6 Banjaran, juga menambah bahan baku. Mia menghabiskan sekitar 80 kg. Sehari omzetnya antara Rp 700.000 dan Rp 800.000.

''Satu kilogram keong mentah saya beli Rp 3.500-Rp 4.000. Saya menjual kraca Rp 12.000/kg. Selalu habis. Banyak pembeli mencari karena rasanya khas,'' ujar Kamlani, yang mengaku sudah berjualan empat tahun.

Keong, kata dia, dipasok seorang penjual di Pekalongan. Penjual kraca lain umumnya mengambil keong dari petani Banyumas dan sekitarnya, seperti Kedungbanteng, Baturraden, dan Sumbang. Biasanya di daerah itu ada aliran air di sawah atau kolam.

Kenikmatan lain adalah saat berburu penjual kraca tak sebanding dengan permintaan. Pembeli pun terkadang berebut. Jika satu penjual kehabisan, pembeli pun bergegas ke penjual lain. Jika hari ini tak memperoleh, hari berikutnya pasti berupaya keras untuk bisa menikmati kraca. Pemandangan itu antara lain bisa kita lihat di Pasar Pereng. (Agus Wahyudi-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA