SUARA MERDEKA
 
INDEKS INTERNASIONAL Sabtu, 16 Oktober 2004

BAGDAD - Pasukan Amerika menangkap ketua tim perunding Fallujah Jumat kemarin, setelah serangan udara di kota yang dikuasai gerilyawan tersebut. Serangan udara itu merupakan bagian dari upaya AS untuk menggagalkan serangan gerilya di Irak selama bulan puasa Ramadan.

PHNOM PENH - Raja baru Kamboja Norodom Sihamoni, Jumat kemarin, mengatakan dia ragu campur takut menerima takhta itu. Dia menggunakan pesan pertamanya kepada rakyat untuk meminta maaf karena dia kurang pengalaman untuk jabatan itu.

TOKYO - Orang nomor dua di partai berkuasa Jepang mengkritik keras kebijakan tentang Korut yang dilontarkan John Kerry, kandidat presiden dari Partai Demokrat AS. Pejabat partai Jepang itu mengatakan dia berharap Presiden AS George W Bush akan terpilih lagi.

TOKYO - Pekerja sipil AS di pangkalan militernya di Jepang hari Jumat kemarin ditangkap karena dituduh memerkosa seorang wanita Jepang di Pulau Okinawa, tempat kehadiran militer AS terbesar di negeri itu, kata juru bicara kepolisian.

KABUL - Ketika 99 persen suara sedang dihitung dalam pemilihan presiden Afghanistan, Presiden Hamid Karzai unggul. Banyak pengamat memperkirakan dia akan mempertahankan keunggulan itu sampai akhir penghitungan suara yang berlangsung maraton tersebut.

WASHINGTON - Militer AS sedang menyelidiki 28 prajurit dalam kasus kematian dua tahanan di penjara Amerika di Afghanistan pada 2002, kata Angkatan Darat AS, Kamis. Beberapa dari mereka bisa menghadapi tuduhan pembunuhan tanpa sengaja, kata seorang jurubicara yang memberikan penjelasan

WARSAWA - Pengadilan Tinggi Zimbabwe membebaskan pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai dari dakwaan melakukan tindak pengkhianatan. Dia sebelumnya dituduh melakukan makar untuk membunuh Presiden Robert Mugabe menjelang pemilihan kontroversial yang dimenangkan oleh pemimpin Zimbabwe itu pada 2002.

BEIJING - Sekitar 20 warga Korea Utara memasuki Konsulat Korea Selatan di Beijing, Jumat kemarin, untuk mencari suaka, kata sumber diplomatik. Lee Kyu-hyung, juru bicara Kementerian Luar Negeri Korsel, mengatakan para pejabat kedubes terlebih dulu akan mencari tahu identitas mereka, sebelum mengambil tindakan lain.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA