logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 Oktober 2004 SALA
Line

Cadangan Air di Gajahmungkur Kritis

  • Tak Mencukupi Kebutuhan Petani

WONOGIRI - Cadangan air yang berada di Waduk Gajahmungkur Wonogiri semakin menipis seiring dengan musim kemarau yang berkepanjangan. Pasokan air yang ada di tempat itu diperkirakan hanya cukup untuk pembangkit listrik.

Adapun untuk irigasi lahan pertanian, petani dipastikan tidak akan memperoleh pasokan yang mencukupi. "Kapasitas air di Waduk Gajahmungkur hanya cukup untuk pembangikit listrik. Untuk irigasi, dari pantauan kami sudah sangat minim. Hal itu biasa terjadi pada tiap kemarau panjang," ujar Kepala Balai Teknologi Pengelolan Daerah Aliran Sungai Indonesia Bagian Barat (BTPDAS IBB) Ir C Nugroho Sulistyo Priyono MSc, ketika dihubungi, kemarin.

Dia mengatakan, untuk irigasi dan kebutuhan lain, jumlah air yang tersedia sangat kontras dengan awal datangnya musim kemarau. Elevasinya saat ini turun sekali dari kisaran normal. Meski jumlahnya sangat minim, mengenai pasokan listrik tidak masalah. Sebab, PT PLN bisa mengambil sumber energi dari tempat lain. Yang lebih memprihatinkan justru lahan pertanian yang kesulitan memperoleh pengairan.

Dengan kondisi itu, petani juga tidak bisa berbuat banyak lantaran mereka sepenuhnya mengandalkan pasokan air dari waduk tersebut. "Tanpa irigasi, petani tak bisa apa-apa. Yang bisa dilakukan petani hanya menyesuaikan pola tanam. Biasanya mereka tahu, kalau Agustus belum ada air, mereka menanam palawija sehingga pada Oktober meski tidak ada air, tanaman itu tinggal dipanen. Air tidak selalu dibutuhkan sepanjang waktu untuk petani," paparnya.

Karakteristik

Nugroho juga tidak ingat secara pasti data dalam angka kandungan air yang ada sekarang. Namun menurut sumber di Dinas pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng, waduk yang semula mempunyai daya tampung 560.000 juta meter kubik air itu, saat dilakukan pengukuran Juli lalu tampungan airnya sudah berada di kisaran 330.000 juta meter kubik. "Melihat kemarau masih terus berkepanjangan, saya kira kandungan juga terus menurun," katanya.

Menurut penuturan Nugroho, beberapa daerah di Kabupaten Wonogiri memiliki karakteristik tertentu sehingga pada musim kemarau selalu kekeringan. Di daerah selatan seperti Kecamatan Pracimantoro dan Giritontro, konstruksi tanahnya berupa katsr (kapur) sehingga akan selalu mengalami kekeringan.

Daerah kapur tersebut tidak punya cadangan (reservoir) air di bawah tanah. Berapa pun air yang meresap di kapur akan mengalir ke daerah di bawahnya. Dengan kondisi tersebut, otomatis sumur konvensional pada pertengahan kemarau sudah habis. Kondisi berbeda terjadi di Wonogiri bagian utara seperti Girimarto dan Ngadirojo yang tanahnya volkanik sehingga sumurnya masih bisa menyimpan air.

Bagaimana jika hujan terlambat turun? Nugroho mengatakan, jika pasokan air situasinya seperti itu, maka pola tanamnya yang harus disesuaikan. Dia mengimbau masyarakat supaya tidak memaksakan diri menanam padi karena kebutuhan airnya tinggi sekali. Demikian juga waktu penanamannya harus menunggu hujan turun secara kontinu. (G18-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA