| Sabtu, 16 Oktober 2004 | SALA |
Ritus Doa Malem Selikuran Jangan DirusakKERATON SURAKARTA - Pelaksanaan ritual Malem Selikuran yang selama ini digelar Keraton di Taman Sriwedari Solo, dinilai telah dirusak secara sistematis oleh unsur-unsur pemerintah. Namun Keraton juga mengakui, ada perlakuan yang keliru dari oknum-oknum internal terhadap prosesi ritus doa menyambut lailatul qadar tersebut, akibat ada kerabat atau pejabat dari dalam yang nonyol-nonyol ingin tampil. "Pelaksanaan prosesi ritus doa Malem Selikuran yang berjalan selama ini sudah salah kaprah. Karena ada orang dalam yang sengaja memberi kesempatan unsur-unsur dari luar, misalnya dari pemerintah, yang telah merusak jalannya ritual itu," kata Wakil Pengageng Parentah Keraton, GPH Puger di Kamandungan, Baluwarti, kemarin. Hal yang dianggap sudah menodai prosesi ritus doa dalam menyambut "Malam Seribu Bulan" itu, adalah hadirnya sejumlah putra dan kerabat sentana di Keraton dalam posisi sebagai pejabat di Keraton pada ritual tersebut. Hal yang menyimpang, juga terjadi ketika arak-arakan prosesi dari Keraton itu diacarakan untuk diserahterimakan dari pimpinan rombongan kepada panitia setempat, atau biasanya yang menunggu di Pendapa Joglo Taman Sriwedari. Penyimpangan lain yang terjadi, yaitu saat Wali Kota atau pejabat lain yang mewakili, diacarakan memberi sambutan untuk menyambut laporan ketua panitia di tengah ritual berlangsung. Dan lebih parah lagi, ritual itu baru bisa dijalankan atau dimulai -seolah-olah- setelah mendapat izin atau komando dari panitia yang biasanya merupakan representasi dari unsur-unsur pemerintah. Berulang-ulang "Berbagai hal itu sudah berulang-ulang kami ingatkan. Karena saya tahu pedomannya, yaitu dari referensi kepustakaan yang ada, yang menceritakan tahap-tahap prosesi ritus doa secara lengkap, serta tata cara dan aturannya. Bukan awur-awuran seperti yang berjalan selama ini," tuding Pengageng Museum dan Sasana Pustaka itu mencontohkan. Menyaksikan banyaknya penyimpangan seperti itu, dia menyatakan sudah melapor kepada KGPH Hangabehi selaku SISKS Paku Buwono XIII. Harapannya, dalam waktu singkat segera dikeluarkan dhawuh atau perintah untuk meluruskan pelaksanaan ritual yang selama ini dibiarkan menyimpang, akibat ketidaktahuan di satu sisi dan intervensi oknum-oknum yang hanya ingin mencari muka di sisi lain itu. Menurut dia, pelurusan dan revisi itu masih sangat memungkinkan bisa dilakukan, mengingat prosesi ritus doa tersebut direncanakan, disusun, dan diberangkatkan dari Keraton. Untuk bulan puasa kali ini, ritual Malem Selikuran akan jatuh pada awal November, berupa prosesi mengarak hajad dalem berjalan kaki dari Keraton menuju tempat ritus doa di Pendapa Joglo Taman Sriwedari. "Yang jelas, Keraton hanya akan melepas utusan dalem yang akan dipimpin Bupati Gantung Laku. Kalau ada sedherek dalem seperti saya atau kerabat sentana yang akan hadir di tempat itu, kapasitasnya bukan sebagai kerabat," tunjuknya meluruskan. (won-17a) |