logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 Oktober 2004 SALA
Line

Masjid Al Ikhlas Jujugan Buka Puasa Tukang Becak

MENJELANG shalat magrib, Masjid Al-Ikhlas yang terletak di Jalan Veteran, Kampung Tamanasri, Sragen, nampak marak. Sejumlah ibu di kampung itu sibuk menyiapkan menu berbuka puasa.

Ada nasi hangat, sayur bening, teh hangat, dan ada pula kolak. Sajian berbuka puasa digelar di serambi masjid. Sesaat kemudian, puluhan pengayuh becak, musafir dan kaum dhuafa berdatangan, dan dengan lahap menyantap sajian berbuka puasa. Suasananya begitu akrab, apalagi takmir masjid ada yang ikut menyertai makan bersama mereka.

"Hidangan yang disajikan cukup nikmat, karena dimasak sendiri oleh ibu-ibu kampung," tutur Wasi (60), jamaah yang ikut menikmati berbuka puasa bersama.

Tak aneh, jika masjid itu selalu menjadi jujugan berbuka puasa para tukang becak dan kaum miskin lainnya,yang banyak terdapat di sekitar lokasi. Di antara juru masaknya, ada Ny Daud, pengusaha katering yang tinggal di Kampung Tamanasri. Ibu-ibu pejabat yang tinggal di seputar masjid itu, memang dikenal piawai memasak. Soal biaya tidak menjadi masalah.

"Kalau beramal dengan ikhlas, nanti kan juga dapat ganti berlipat," tutur seorang ibu yang tidak pernah merisaukan soal biaya masakan buka puasa itu.

Kegiatan berbuka puasa bersama itu, tidak mengenal batasan peserta dan asal-usul maupun tempat tinggalnya. Sebab, orang yang hadir dan menyantap hidangan di masjid itu ada yang satu sama lain tidak saling mengenal. Artinya, jika seseorang yang merasa dahaga dan lapar ingin berbuka puasa bersama di masjid itu, diterima dengan tangan terbuka dan penuh keikhlasan.

Sugiman, pengayuh becak yang biasa mangkal di depan Shopping Centre Sragen, punya pengalaman menarik. Pada puasa tahun lalu, dia baru saja mengantar penumpang di Kampung Tamanasri, tak jauh dari Masjid Al Ikhlas. Menjelang magrib, ia bertanya kepada penumpangnya di mana ada warung terdekat untuk berbuka puasa.

Penumpang itu berbaik hati, memberitahu Sugiman untuk berbuka puasa di Masjid Al Ikhlas. "Mboten mbayar, buka wonten masjid mriku mawon (Tidak membayar, berbuka puasa di masjid itu saja," saran seorang ibu yang menumpang becaknya.

Dilestarikan

Ketua Takmir Masjid, M Jamin menjelaskan, kegiatan berbuka bersama kaum dhuafa dan musafir itu sudah berlangsung sejak 1993. "Kegiatan itu diharapkan bisa dilestarikan, meski tetap mengingat kondisi," tuturnya.

Pihak takmir tidak kesulitan membiayai kegiatan itu, karena biaya ditanggung bersama secara urunan warga Kampung Tamanasri yang dikenal sebagai hunian para pejabat Pemkab Sragen dan pengusaha tersebut.

Sistem penjadwalan menyiapkan menu bergiliran, ditangani ibu-ibu warga Kampung RT 31, 32, 33, 34 dan RT 35, Kelurahan Kroyo, Karangmalang, dan dikoordinasi oleh Ny Daud.

Masjid itu tidak terlalu besar, namun selama Ramadan selalu padat kegiatan TPA dan pesantren kilat. Setelah ceramah tarawih, biasanya dilanjutkan dengan tadarusan hingga pukul 22.00.

Masjid Al-Ikhlas cukup terawat dan bersih; dibangun atas inisiatif warga, karena di kampung itu dulu belum ada masjid. Karena lokasinya strategis berada berhadapan dengan Stadion Taruna dan dekat dengan perkantoran serta rumah sakit, masjid itu selalu ramai. Pada saat shalat jumat, banyak pengunjung berdatangan di masjid seluas 300 m2 itu.

Wasi menjelaskan, sistem pengelolaan dan kegiatan masjid cukup bagus. "Saya pernah mendengar ada seorang dosen yang menjadi imam di Masjid Al-Ikhlas memprediksikan, masjid itu bisa menjadi contoh bagi takmir masjid lain," tutur Wasi.(Anindito AN-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA