| Sabtu, 16 Oktober 2004 | PANTURA |
Menanti Fajar di Pantai KlidangALUNAN ayat-ayat suci Alquran terdengar dari pengeras suara Masjid Al Bahari yang berada tak jauh dari Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Klidanglor, Batang. Saat itu suasana di sekitarnya juga masih gelap. Semenntara itu, di belahan timur ufuk fajar mulai terlihat. Dari arah selatan, sorot lampu motor dan mobil terlihat menuju ke arah utara. Perlahan-lahan di depan halaman masjid yang berupa tanah lapang yang dipersiapkan sebagai tempat untuk batu bara setelah diturunkan dari perahu, sudah dipenuhi orang. Itulah pemadangan yang muncul pada bulan Ramadan. Menjadi kebiasan bagi masyarakat yang berdomisili di wilayah perkotaan Batang, pada bulan suci ini setiap selesai shalat subuh, kemudian berjalan-jalan. Bepergian ke pantai menikmati panorama terbitnya matahari, banyak digemari masyarakat. Ada pantai yang ramai dikunjungi, yaitu Pantai Klidang di sebalah barat PPI Klidanglor serta Objek Wisata Pantai Sigandu. Ada yang bermain bola atau sekadar jalan-jalan di tanah berpasir, ada pula yang mandi di laut. Sebagian lagi duduk-duduk di tepi dermaga. Namun yang paling banyak, memilih duduk di jok motor, khususnya para kawula muda. Lebih-lebih yang ke pantai bersama teman akrabnya atau pujaan hatinya. Hilir mudik perahu yang masuk ke dermaga untuk membongkar ikan atau yang akan melaut, menambah semaraknya pagi di Pantai Klidang. Sementara itu, dari ufuk timur matahari perlahan-lahan mulai muncul. Bulat berwarna kuning, pelan tapi pasti terus naik menerangi dunia. ''Kami sudah janjian dengan teman-teman setelah sahur, shalat subuh di Masjid Agung, terus jalan-jalan ke Pantai Klidang. Ternyata menyaksikan matahari terbit sangat bagus,'' ujar Astiana (16). Dia bercerita, selama ini tak pernah menyaksikan fajar tiba karena setiap hari sudah disibukkan dengan aktivitas belajar. Hari Minggu atau libur pun juga dihabiskan untuk sekadar jalan-jalan di alun-alun, atau mengikuti senam pagi di kampungnya. ''Karena itu, ajakan teman-teman untuk melihat ufuk timur bersama teman-teman saya buktikan. Benar-benar nikmat sekali melihat kebesaran Allah SWT,'' ujar pelajar SMA itu. Berbeda Sementara itu, Sukanto (35) menyatakan, menikmati pemandangan pagi hari di pantai pada bulan puasa rasanya berbeda dengan biasanya karena pada bulan Ramadan benar-benar sebagai bulan introspeksi untuk merenung. ''Sambil menikmati terbitnya fajar di bulan puasa, saya merasakan ada perbedaan dalam hati ini. Betapa Maha Agungnya dan Sempurnanya Allah SWT,'' katanya. Hal itu dijadikan pembelajaran bagi putra-putrinya, yaitu untuk mencintai Allah dengan cara menjalankan ibadah. ''Ke pantai ini tidak sekadar senang-senang, namun juga sarana untuk memberi pelajaran bagi anak-anak betapa Allah itu mencintai umat-Nya. Karena itu, kita pun harus mencintai dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya,'' ujar bapak dua anak itu. Jarak ke pantai yang hanya sekitar dua kilometer ke arah utara dari alun-alun, menjadikan Pantai Klidang tujuan utama warga. Apalagi rute yang dilewati berupa jalan aspal, sehingga banyak pula yang sengaja menuju ke pantai dengan berjalan kaki. Untuk pulangnya, tak ada masalah karena selain ada becak, juga ada dokar. (Arif Suryoto-74) |