logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 Oktober 2004 PANTURA
Line

Nursiyamto Luka Parah akibat Tersetrum

BATANG - Nasib nahas dialami Nursiyamto (20), warga Kampung Kedungrejo, Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang karena dia telah 10 hari tergolek di RSUD Kalisari.

Dia mengalami luka berat di sekujur tubuhnya setelah tersetrum saat bekerja sebagai tukang batu di lokasi pasar grosir Setono, timur markas Brimob Pekalongan.

Luka yang dialami bujangan putra pasangan Sutoyo (50) dan Taryumi (40) ini sangat serius. Mata kanan sampai kini belum bisa dibuka sempurna, sedangkan badannya luka seperti terbakar.

Menurut keterangan Sutoyo, kejadian malang yang menimpa anaknya itu terjadi Rabu (6/10) siang. Saat itu, Nursiyamto yang mendapat tugas mengaci (menghaluskan) tembok bermaksud beristirahat.

"Namun, saat akan bangkit kepalanya menyentuh kawat listrik bertegangan tinggi. Anak saya bergerak kemudian justru punggungnya terlilit dan terkena setrum. Setelah itu langsung jatuh terkulai," ungkap Sutoyo menirukan kesaksian teman-teman anaknya.

Seketika itu juga Nursiyamto jatuh terkapar. Sekujur tubuhnya gosong dan oleh teman sekerjanya korban segera dilarikan ke RSUD Kalisari Batang.

Kali pertama, korban dirawat di Ruang Anggrek yang memiliki fasilitas ruang pendingin. Namun hanya beberapa hari, oleh penanggung jawab bangunan dipindahkan ke ruang kelas tiga (sal).

Sudah Mendingan

"Pada waktu dibawa ke rumah sakit, tubuh Nursiyamto gosong. Kondisinya payah sekali, tidak bisa diajak bicara. Sekarang sudah mendingan, sudah bisa minum dan bicara pelan-pelan," ujar Ny Taryuni.

Di tangan kanannya masih tampak infus. Karena luka bakar di sekujur tubuhnya, korban belum bisa berpakaian. Selembar kain hanya untuk menutup kemaluannya. Badannya tampak terbuka sehingga terlihat luka-luka bakar yang dia alami.

Sutoyo menuturkan, semua biaya pengobatan ditanggung oleh penanggung jawab pembangunan. Apabila dia harus beli obat dan di rumah sakit tidak ada, resep kemudian diserahkan ke penanggung jawab.

"Pak Didik sering kemari untuk melihat korban dan membelikan obat yang di rumah sakit tidak ada. Bahkan, selama ini saya sudah diberi uang Rp 150.000."

Didik Noviandi menyatakan pihaknya akan mengobatkan korban sampai sembuh.

"Sejak masuk rumah sakit semua keperluan obat-obatan sudah saya cukupi. Yang jelas, kami bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan." (ar-74j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA