| Sabtu, 16 Oktober 2004 | PANTURA |
Setelah Subuh Ribuan Warga Penuhi Pantai SariTAK ada tontonan di jalan Pantaisari Kota Pekalongan kecuali hanya laut dengan beberapa kapal yang masih mengeluarkan sinar dari lampu halogen pada pagi hari kemarin. Akan tetapi, satu per satu motor dan sepeda mulai berdatangan sejak pukul 05.00 di Jalan Pantaisari yang membujur dari timur ke barat sepanjang 1,6 km. Motor dan sepeda yang mereka bawa langsung disandarkan di tepi jalan. Mereka meninggalkan kendaraannya menuju ke tanggul pantai. Mereka menatap laut seakan-akan begitu indah pemandangan di laut. Padahal, pantai Pekalongan hanya biasa-biasa saja. Bahkan, seringkali terlihat kumuh karena banyak sampah. Namun, kemarin pagi memang tidak terlihat sampah berserakan di bibir pantai. Sementara itu di tepi tanggul pantai, tanahnya tergerus ombak sehingga sebagian jalan rusak. Di Kampung Pantaisari pun, pemandangannya kurang menarik karena lokasi perumahan kurang tertata dengan baik lantaran belum lama ini dilanda abrasi. "Kasihan, jika kita melihat rumah-rumah di Pantaisari. Halaman rumahnya tertutup pasir sedangkan lantai rumahnya terlihat lebih rendah dari jalan. Ini perlu mendapat perhatian Pemkot," ungkap Norma, warga Panjang, saat menikmati pantai itu. Ya, meski sebenarnya pemandangan pantai kurang menarik, masyarakat Pekalongan sudah biasa menikmati udara segar pantai pada pagi hari seusai sahur mulai pukul 05.00 hingga 07.00. Suara Merdeka yang datang ke pantai itu sejak pukul 05.00 melihat saat awal Pantaisari belum dipenuhi pengunjung. Motor dan sepeda masih mudah lewat. Namun satu per satu, kendaraan terus mengalir menuju Jalan Pantaisari sepanjang 1,6 km. Pada pukul 05.30, jalan itu sudah sesak dengan warga. Kendaraan yang akan masuk susah bukan main. Ribuan warga yang sebagian besar para remaja tumplek bleg di jalan pantai itu. "Ini memang sudah menjadi tradisi masyarakat Pekalongan setiap awal bulan Puasa. Setelah subuh, mereka berdatangan di pantai. Sebagian besar remaja hanya ingin cuci mata," ujar Nanik, warga Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan datang untuk menikmati udara segar pantai itu. Meski demikian, tidak semua yang hadir hanya remaja. Orang tua dan anak-anak pun banyak yang datang. Kalau tujuan anak-anak itu sudah jelas, mereka akan mandi di laut dan menikmati udara segar di pantai. Cuci Mata Kabag Humas Suharto BBA mengemukakan, membeludaknya warga di sepanjang jalan Pantaisari itu untuk mengisi waktu setelah melaksanakan shalat subuh. "Ini sudah biasa dilakukan. Warga yang datang ternyata jauh lebih banyak dibanding dengan hari libur di luar bulan Puasa," tuturnya. Mereka datang ke tempat itu, pada umumnya sekadar cuci mata. Mengingat, yang datang ke tempat itu sebagian besar remaja. Namun ada juga yang berdalih bahwa kedatangannya ke pantai untuk menghabiskan waktunya sampai pagi. Sebab, jika setelah mereka sahur dan menunaukan shalat subuh langsung tidur, biasanya kebablasan. Akibatnya, ketika mereka akan berangkat kerja terlambat. Karena itu, mereka memilih cuci mata di pantai. Namun apa pun alasannya, menghirup udara segar di pantai memang menyehatkan. Banyak di antara anak dan orang dewasa yang menderita sakit paru setelah menghirup udara segar di laut sembuh. Karena itu, kebiasaan datang ke laut pagi hari untuk menghirup udara segar tidak menimbulkan masalah dan kalau perlu diteruskan. Meski demikian apa pun alasannya, ujar Suharto, masyarakat Pekalongan sebenarnya haus hiburan. Karena itu, tidak aneh bila ada keramaian di Kota Batik maka penontonnya berjubel. Misalnya seperi bazar yang dilakukan kemarin, penontonnya juga membeludak. Ini bukti masyarakat Pekalongan sebenarnya haus hiburan.(Trias Purwadi-14j) |