logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 Oktober 2004 PANTURA
Line

Kungkum Tengah Malam Jelang Ramadan

TRADISI kungkum (berendam di air-Red) pada pasaran kliwon, baik malam Jumat atau Selasa di objek wisata Pemandian Air Panas Guci adalah kebiasaan yang dilakukan masyarakat sekitar daerah itu hingga sekarang.

Yang unik, pengunjung biasanya mulai kungkum pukul 21.00 hingga 02.00. Itu artinya, selesai kungkum mereka langsung makan sahur.

Umumnya, ada yang membawa bekal dari rumah, ada juga yang memanfaatkan aneka makanan yang dijajakan pedagang di seputar lokasi.

Tradisi itu juga dilakukan oleh warga luar Desa/Kecamatan Bumijawa dan Desa/Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Tidak mengherankan, tiap kali tiba malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, ribuan orang berjubel di objek wisata itu. Mereka antre di air panas yang dialirkan dari puluhan pancuran.

Tahun ini, ketika pemerintah menetapkan kedatangan awal puasa yang jatuh pada Jumat (15/10) dan bertepatan dengan Jumat Kliwon, ribuan orang berbondong-bondong memadati pemandian air panas tersebut.

"Ini memang peristiwa yang langka. Awal Puasa jatuh Jumat Kliwon, sehingga malam sebelumnya sangat ideal untuk kungkum yang biasa dilakukan. Ini hari keramat yang banyak dimanfaatkan orang untuk mencari berkah," papar Sutarjo (45), warga Kota Tegal yang datang bersama enam orang untuk kungkum di Guci sebelum menjalankan ibadah puasa tahun ini.

Mereka percaya, setelah mandi sambil berkeramas kemudian kungkum, permintaan akan mendapat berkah istimewa dan bakal terkabul. Berkah yang diminta oleh pengunjung memang bermacam-macam, seperti keselamatan, kekayaan, kewibawaan, dan kekuatan selama menunaikan puasa. Itu juga yang dilakukan ribuan orang pada hari-hari biasa pada malam Jumat dan Selasa Kliwon.

Petilasan Sunan

Menurut penuturan Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Tegal Agus Sunarto, keramaian dan kepercayaan terhadap Pemandian Air Panas Guci berawal dari cerita rakyat bahwa tempat tersebut merupakan salah satu petilasan Sunan Gunungjati atau dikenal dengan nama Syech Syarif Hidayatullah untuk mensyiarkan agama Islam.

Sunan meninggalkan sebuah guci dengan maksud agar masyarakat sekitar dapat memanfaatkan airnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, dapat pula dijadikan obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang sampai sekarang masih diyakini akan khasiat dan manfaatnya.

Hal lain yang lebih menarik, bila kungkum atau mandi di Pemandian Air Panas Guci, air panasnya jernih, tidak berbau, dan tidak berwarna. Sejumlah kalangan menilai, air panas yang keluar dari bukit itu mengandung belerang dan dapat menyembuhkan stroke. (Riyono Toepra-74j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA