| Sabtu, 16 Oktober 2004 | PANTURA |
Sulit Ditertibkan, Izin Trayek DicabutPEMALANG - Sebagian awak angkutan kota (angkota) di Pemalang sulit ditertibkan agar mematuhi jalur trayek. Mereka kerap mencuri jalur untuk mendapatkan penumpang. Hal itu menimbulkan kejengkelan awak angkota lain yang jalurnya diserobot. Kepala Dinas Perhubungan Riswantoro BA ketika dihubungi mengakui, pihaknya kesulitan menertibkan mereka. Mereka yang melanggar trayek pernah ditindak tegas dikenai tilang. Namun, hal itu mendapat reaksi keras dari para awak angkota. "Kami dan aparat terkait secara terpadu pernah menindak mereka yang melanggar jalur, tapi mendapat rekasi keras," katanya kemarin ketika dimintai tanggapan mengenai aksi mogok sejumlah awak angkota. Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, belasan awak angkota trayek G dan G1 jurusan Pemalang-Banjarmulya melakukan mogok tidak menarik penumpang pada Jumat (13/10) lalu. Aksi itu dilakukan karena mereka merasa dirugikan oleh penyerobotan jalur yang dilakukan angkota lain jurusan. Akibatnya, terjadi rebutan penumpang. Tak Perhatikan Rute Menurut koordinator mereka, Nurdin, kini banyak awak angkota yang dalam beroperasi tidak memperhatikan rute trayek. Mereka banyak memilih rute dalam kota. Padahal, rute itu milik trayek G dan G1. Pendapatan yang semula Rp 70.000 ke atas turun menjadi Rp 60.000. Mereka meminta agar aparat berwenang seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP atau Satlantas menindak para awak angkota yang melanggar trayek, sehingga para awak angkota beroperasi dengan tertib, tidak saling serobot dan rebutan penumpang. Yang sering terjadi, aparat tidak pernah menindak mereka. Riswantoro menuturkan, angkota yang sering melanggar jalur adalah awak angkota jurusan Petarukan-Pemalang. Setelah sampai di kota mereka seharusnya melewati Jalan-Pemuda, Sirandu dan Jalan A Yani. Namun, yang terjadi mereka melaju terus lurus melewati Jalan Jenderal Sudirman, Jalan A Yani, dan Sirandu. Mereka pernah ditindak tegas, tapi bereaksi keras. Karena itu, dengan adanya aksi mogok dari belasan awak angkota itu, kini pihaknya tidak menindak tegas, tapi hanya memberi peringatan. Bila sudah diperingatkan tetap sulit ditertibkan, terpaksa izin trayek mereka akan dicabut. Mengenai keluhan soal penghasilan, menurutnya, hal itu dialami oleh semua awak angkutan penumpang. Menjelang Ramadan penumpang semua angkota memang sepi. Baru setelah puasa berjalan dua minggu, penumpang ramai kembali. Bahkan, pendapatan angkota akan naik beberapa kali lipat. Aksi mogok serupa pernah terjadi tahun lalu. Waktunya juga mendekati Ramadan. Hal itu membuktikan bahwa menjelang Ramadan usaha angkota memang sedang sepi, sehingga mereka melakukan aksi mogok. (sf-14e) |