| Sabtu, 16 Oktober 2004 | MURIA |
Anak-anak Panti Tak Ingin Dikasihani (2)Pemanjaan Hanya Menyebabkan KetergantunganKALAU dikaji lebih cermat, pernyataan salah seorang pengasuh sebuah panti asuhan (PA) di Pati, bahwa pemanjaan kepada para penghuni panti justru menjadi salah satu penyebab ketergantungan, memang tidak salah. Padahal, mereka setelah masuk ke panti sebenarnya telah dididik untuk tidak tergantung pada belas kasihan, tapi nantinya harus benar-benar bisa mandiri. Pengasuh PA itu adalah Abdul Hadi HS bersama isteri, yang terhitung sejak Oktober 2000 menjadi pengasuh PA Jauharotul Iman (Mutiara Kepemimpinan), di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan Pati. Jika semula panti ini hanya menampung lima anak, sekarang bertambah menjadi 45 anak dengan berbagai latar belakang. Dari jumlah tersebut, katanya lebih lanjut, tiga di antaranya adalah anak telantar korban kerusuhan Ambon, dan tujuh lainnya anak telantar dari Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel). Kegiatan sehari-hari penghuni panti adalah belajar di sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA dan SMK. Pengalaman selama mengasuh mereka, memang ada kecenderungan bahwa kemanjaan yang diberikan oleh dermawan kepada mereka berdampak negatif, yaitu berupa ketergantungan. Padahal, pangkal permasalahannya semula hanyalah sepele, yaitu soal penyediaan kebutuhan makan sehari-hari, yang mungkin oleh dermawan dianggap anak panti tidak pernah menikmati makanan dengan lauk-pauk yang berlebih. Karena itu, ada seorang dermawan dari Juwana, jika mengirim lauk-pauk pun tidak tanggung-tanggung. Apalagi kalau bukan sate kambing atau sate ayam, yang jumlahnya mencapai 600 tusuk (sujen), belum lagi ditambah jenis lauk lainnya berupa ikan laut atau bandeng. Seperti pada saat puasa seperti sekarang, para penghuni panti pasti sering diajak bebuka puasa bersama, baik oleh pejabat maupun dermawan. Sehingga sajian makanan tentu berbeda dengan sajian makan sehari-hari di panti. "Akibatnya, ketika di panti kami sajikan makan dengan lauk ikan pindang, goreng tempe, tahu, dan sambal, serta sayur, mereka saling lirik," ujarnya. Keterampilan Mungkin saja, anak-anak beranggapan mengapa makanan yang tersedia di panti tidak senikmat ketika mereka diundang berbuka puasa oleh pejabat atau dermawan. Dengan kata lain, rasa ketergantungan tersebut memang sangat tampak, sehingga kadang-kadang berbenturan dengan upaya menanamkan pola hidup sederhana. Sebab, sasaran program di panti asuhan yang dia asuh selama ini tidaklah mengutamakan pemberian makan yang berlebihan, tetapi sesekali waktu, mereka memang harus mendapat sajian makan yang berbeda dengan sajian makan sehari-hari. Hanya, pemberian kiriman makan dari dermawan yang berlebih itu, seharusnya bisa diwujudkan dalam bentuk kebutuhan lain. Apalagi, panti punya program, mereka harus disekolahkan sampai tamat SMA. Sedangkan bagi lulusan yang berprestasi bagus, pihaknya akan mengirim mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan sistim melalui orang tua asuh. Untuk keperluan tersebut, jaringan kerja sama dengan calon orang tua asuh telah dilakukan. Tidak hanya di Semarang, tapi juga di Yogyakarta, sehingga tugas utama mereka selama menjadi penghuni panti adalah belajar sampai bisa mandiri. Karena itu, bagi penghuni pun telah disiapkan beberapa latihan keterampilan. Misalnya, untuk penghuni pantri putri dilatih keterampilan membuat kue dan makanan ringan lainnya, yang harus dijual sendiri kepada masyarakat. "Bagi mereka yang sekolahnya siang hari, hal itu bisa dilakukan pada pagi hari, dan rata-rata sudah mempunyai langganan." Rp 5 Juta Untuk keperluan pengelolaan panti, mulai dari penyediaan makanan dan kebutuhan sekolah anak-anak,, rata-rata per bulan menghabiskan biaya Rp 5 juta. Sebab, jumlah penghuni sebanyak itu, saat ini masih bersekolah di SD sebanyak lima anak, SMA/SMK sembilan anak, dan sisanya masih duduk di bangku SMP. Selain diberikan keterampilan membuat makanan untuk penghuni panti putri, maka putra pun tak jauh berbeda. Yakni, reparasi sepeda dan mematri, serta di bidang olah raga bela diri, khususnya pencak silat dengan tempat berlatih juga di lingkungan panti. Ditanya soal fasilitas, Abdul Hadi HS menambahkan, anak-anak penghuni panti memang dikondisikan sebagai rumah tangga dari keluarga besar. Sebab, panti tersebut semula memang berupa rumah tempat tinggal almarhum H Imam Sureni, yang diwakafkan kepada Yayasan Muhammadiyah. Dengan demikian, fasilitas yang tersedia adalah fasilitas rumah tangga, termasuk salah satu di antaranya pesawat telepon. (Alman Eko Darmo-15) |