| Sabtu, 16 Oktober 2004 | MURIA |
"Wah, Jidure Saka Tutup Panci"SENJA belum terlalu lama tenggelam ketika lantunan Selawat Badar bersahutan dengan hentakan ritmis jidur dan dentuman beduk yang bertalu. Sementara itu, lengkingan nada-nada tinggi dari syair islami yang mengalun seringkali tenggelam dalam keriuhan tepuk tangan penonton yang menyaksikan semua itu. Ketika itu, enam buah jidur dan sebuah beduk yang diletakkan di atas panggung di halaman parkir Tugu Identitas Kudus seakan tiada pernah berhenti untuk ditabuh oleh 12 grup yang tampil dalam Festival Beduk Dandang IV 2004. Nuansa religi, jelas berbaur dengan kedinamisan gerak dan lagu yang ditampilkan setiap peserta kala itu. Acara yang dibuka oleh Bupati Kudus HM Tamzil pada Kamis (14/10) malam tersebut diselenggarkan oleh Dewan Kesenian Kudus dan bertujuan untuk melestarikan seni musik Islam yang sudah berurat akar di Kudus sekaligus menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Beri Kebebasan Penyelenggara memberikan kebebasan bagi setiap peserta untuk mengekspresikan kreativitasnya melalui olah gerak, syair, dan kerampakan tabuh musik yang dipertunjukkannya. Dengan demikian, tidak mengherankan bila ke-12 kontestan yang unjuk kemampuan dan cita rasa seni malam itu menyuguhkan hal yang berbeda satu sama lain. Pada grup jidur, irama kesyahduan ditimpali dengan ketukan jidur dan beduk yang tidak terlalu mengentak menjadi pilihan utama. Akan tetapi, bila yang tampil adalah serombongan anak muda yang kreatif, tentu persoalannya akan menjadi lain. Seperti yang ditampilkan oleh sebuah grup beduk dandang asal Desa Nganguk itu. Dengan 12 orang yang berpakaian ala padang pasir membuat penampilan mereka tampak mencolok dibandingkan yang lain. Apalagi nuansa yang ditampilkannya pun tidak pernah miskin kreativitas. Dari sisi peralatannya pun tentu akan membuat yang menyaksikannya geleng-geleng kepala. Betapa tidak? Sebuah panci wastafel, tiga buah mug, dan tiga buah tong sampah lengkap dengan tutup panci sebagai cymbal-nya diusung ke atas pentas untuk mengiringi syair-syair yang dilagukan penyanyinya. Belum lagi, cara mereka membawakan lagu-lagu tersebut berbeda 180 derajat dengan apa yang disajikan kelompok lain. "Wah, jidure kok saka tutup panci," komentar seorang pengunjung. Jika yang lain terlihat santun dan anggun, grup ini justru memilih sebaliknya, tampil energik dengan nuansa Hiphop dan R & B. Meski akhirnya tidak mendapat predikat juara apa pun, nyatanya penampilan grup tersebut memberi warna lain dalam penampilan festival beduk yang telah empat kali ini diselenggarakan itu. Peningkatan Menurut penuturan Yudi Ms dari penyelenggara, festival tahun ini mempunyai peningkatan secara kualitas dan kuantitas. Dari segi jumlah peserta terdapat peningkatan. Sementara itu, dari sisi kreativitas juga ada sisi lain yang ditampilkan meskipun semua itu harus dikompromikan dengan pakem dan ketentuan yang diperlakukan panitia. "Setiap peserta memang dibebaskan untuk berkrerasi namun kami juga mempunyai beberapa ketentuan yang harus mereka penuhi," tandasnya. Dan, tampil sebagai yang terbaik malam itu adalah Grup Bedug Dandang Galaxy dari Desa Besito, Kecamatan Gebog yang tahun lalu juga menjuarai untuk ajang serupa. Menurut keterangan dewan juri yang terdiri atas Sukiyadi Suganda, H Faried Tommy, dan Bambang Widiarto, penampil asal Desa Besito tersebut memiliki kekayaan dari segi variasi gerak, syair, dan kerampakan tabuhannya. Apa pun hasilnya, kegiatan tersebut dianggap sebagai usaha untuk melestarikan budaya bernapaskan Islam di Kota Kretek sekaligus menyambut kedatangan bulan suci Ramadan kali ini. (Anton Wahyu Hartono-15j) |