| Sabtu, 16 Oktober 2004 | EKONOMI |
Bisnis Perkeretaapian (1)Perlu Selalu Kreativitas, Inovasi dan Peluang BaruPT Kereta Api Indonesia (PT KAI) pada 27 September 2004 lalu tepat berusia 59 tahun. Menyusul kian murahnya tarif penerbangan, tak ayal lagi bisnis perkeretaapian masa kini dan mendatang tidak bisa bertahan pada bisnis inti jasa angkutan KA lagi. Karena itu diperlukan kreativitas baru, inovasi, serta senantiasa mencari peluang usaha baru di luar bisnis inti, misalnya seperti bisnis properti, baik yang terkait secara langsung dengan bisnis inti, maupun tidak. Sebab, iklim kompetisi demikian gencarnya dan itu harus dihadapi PT KA. Sekarang ini, beberapa KA koridor jarak jauh kalah bersaing dengan moda angkutan penerbangan, belum lagi rencana munculnya pesaing baru pasca beroperasinya jalan tol Cikampek - Padalarang, kemudian disusul dengan rencana jalan tol Cikampek - Cirebon. Sementara itu sejumlah bandara juga melakukan ekspansi dengan perpanjangan landasan pacu, sehingga jenis pesawat berkapasitas lebih besar bisa beroperasi dan tarifnya pun menjadi semakin kompetitif. Dirut PT Kereta Api Indonesia, Omar Berto, saat berbicara pada workshop press 2004 bertema ''Membedah Prospek & Potensi Bisnis Properti Perkeretaapian untuk Menyiasati Kompetisi Bisnis Angkutan Kereta Api,'' mengatakan, fakta itu tidak bisa disikapi dengan pasrah. Namun perlu dipikirkan langkah-langkah strategis untuk menyiasatinya. Sekarang ini sejumlah upaya telah dilakukan PT Kereta Api Indonesia, misalnya dengan melakukan rerouting sejumlah perjalanan KA dari koridor kompetisi tinggi (Jakarta - Surabaya) ke koridor kompetisi rendah (Jakarta - Yogyakarta, Jakarta - Bandung, Jakarta - Cirebon). Hanya saja, menyusul perluasan sejumlah bandara seperti Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Ketaping di Padang yang ditunjang dengan pembangunan prasarananya termasuk memperpanjang landasan pacu, maka rerouting model ini juga sudah tidak kondusif lagi. Belakangan, untuk mengantisipasi kian kerasnya tekanan dari bisnis penerbangan, di kalangan PT Kereta Api muncul semangat untuk mengoptimalkan prospek dan potensi properti perkeretaapian dengan harapan hal ini dapat membantu kinerja PT Kereta Api agar tetap eksis. Langkah ini bagaimanapun patut diacungi jempol, mengingat PT Kereta Api memiliki aset yang banyak sekali, beberapa di antaranya berada di kawasan perkotaan dan bernilai ekonomis yang tinggi. Serta menempati lokasi yang sangat strategis. Dari data diketahui, bahwa sekarang ini PT Kereta Api Indonesia memiliki aset tanah non-produktif seluas 27.000 hektare, yang antara lain sebagian mulai dipropertikan sejak tahun 2002 hingga akhir tahun 2004. Adapun total aset non-produktif yang sudah dioptimalkan pemanfaatannya 114 hektare (0,42%). Dengan total pasokan pendapatan Rp 38,7 miliar. Di mana lahan ini sebelumnya tidak memberikan kontribusi pendapatan apapun terhadap PT Kereta Api Indonesia. Melihat angka-angka ini, hampir pasti bisnis properti perkeretaapian memang cukup menarik. Bayangkan dari hanya 0,42% atau kurang dari 1%, aset non- produktif sudah menghasilkan Rp 38,7 miliar. Dengan demikian, jika 100% lahan non-produktif itu bisa dipropertikan, dipastikan diperoleh pendapatan lebih besar lagi. Hanya saja, untuk mempropertikan suatu lahan non- produktif tersebut sama sekali tidak mudah. Karena sejumlah kendala harus dihadapi, mengingat umumnya lahan tersebut telah dihuni secara turun temurun, sehingga untuk mengosongkan lahan yang rata-rata sudah dihuni tersebut diperlukan biaya yang sangat besar. (Budi Nugraha-82) |