| Kamis, 14 Oktober 2004 | PANTURA |
Tradisi Tumplek Ponjen di SilirejoKumpulkan Uang dengan Nampan RaksasaPEDESAAN sering dianggap sebagai daerah yang penuh dengan ketertinggalan dan keterbatasan sarana prasarana. Namun tidak sedikit orang yang setuju dengan tradisi dan budaya gotong royong yang lebih sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat pedesaan dibandingkan dengan perkotaan. Warga desa selama ini memang identik dengan budaya tolong menolong yang kental sehingga tidak sedikit desa yang punya budaya dan tradisi untuk melanggengkan budaya tersebut seperti di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Tradisi gotong royong di desa itu disebut dengan Tumplek Ponjen. Sekretaris Desa Silirejo Amirudin menandaskan, Tumplek Ponjen adalah pengumpulan dana secara sukarela dari warga yang diletakkan di sebuah nampan raksasa berdiameter sekitar satu meter terbuat dari anyaman bambu. Dana yang terkumpul itu akan digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat yang membutuhkan seperti ketika ada warga yang kesusahan, membangun rumah, atau punya hajat. Tumplek Ponjen, kata Amir, biasanya juga digelar bersamaan dengan kegiatan yang dilaksanakan desa. Seperti saat peresmian jembatan gantung di Silirejo belum lama ini, warga berinisiatif menggelar Tumplek Ponjen. Tanpa dikomando warga yang melewati jalan dan melihat nampan rakasa tersebut langsung merogoh saku atau dompetnya dan meletakkan lembaran uang ribuan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, nampan tersebut sudah penuh uang. "Uang tersebut akan digunakan untuk warga yang membutuhkan," ujar Amir. Eratkan Persaudaraan Beberapa warga mengaku senang dengan tradisi Tumlek Ponjen, sebab bisa mengeratkan persaudaraan dan kepedulian sesama warga. "Hidup bermasyarakat memang harus saling membantu, makanya warga di sini akan senang menyisihkan uangnya ketika ada Tumplek Ponjen," ujar Sihab (29). Meski sebagian besar warga Silirejo bukanlah orang kaya, untuk menyisihkan uang dalam tradisi tersebut warga tidak akan keberatan. "Lihat saja dalam nampan itu, sedikit sekali uang receh, sebagian besar uang kertas ribuan," tuturnya sambil menunjukkan tumpukan uang di atas nampan. Menurut pendapat warga yang lain, tradisi Tumplek Ponjen bisa mengakrabkan sesama warga karena baik pengumpulan maupun pengitungan uang dilakukan secara terbuka dan bersama-sama. "Saat mengitung kita bisa saling canda dan tawa. Jadi, meski perekonomian sedang sulit, rasanya tidak terasa karena kita melihat banyak uang," tutur Surtini (30). Dalam acara peresmian jembatan di Silirejo Tirto yang dihadiri oleh Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono, ratusan warga terlihat antusias mengikuti tradisi ini. "Tradisi ini harus dicontoh daerah lain. Di tengah budaya individualisme yang tengah meracuni masyarakat, ternyata masih ada aktivitas yang justru mentradisikan kebersamaan dan gotong royong," ujar Hadi (24), warga Karanganyar yang kebetulan berkunjung ke Silirejo. (Muhammad Burhan-90n) |