| Kamis, 14 Oktober 2004 | PANTURA |
Pentas Wayang Golek Bersyiar Agama Gaya Ki EnthusPENDETA Durna terlihat serius sekali ketika berhadapan dengan Begawan Tali Rasa. Sementara itu, di samping Pendeta Durna, Buta Terong selalu meledek Begawan Tali Rasa. Tak heran jika teman Begawan yang sepertinya jagoan itu marah-marah kepada Buta Terong. "Omomangane kon atos nemen, tak hajar sisan kon. Omongan langka sopan santune babar pisan," ujar teman Begawan sambil mendekati Bota Terong. Untung Begawan yang arif itu menghalangi rekannya yang terus ingin mendekati Buta Terong. Akan tetapi, teman Pendeta Durna yang memiliki hidung besar itu bukannya terdiam malahan terus meledek kedua tokoh di hadapannya. Karena sudah tidak tahan lagi dengan ejekan tersebut, Buta Terong yang sedang terlena dihajar oleh teman Begawan Tali Rasa. Tanpa ampun lagi, raksasa itu tersungkur ke tanah terkena tendangan musuhnya. "Waduh, goyonan kok ditanggapi serius, kepriyelah. Nyong dadi babak belur kiye," keluh Buta Terong sambil memegangi kepalanya yang agak pening akibat terkena tendangan tadi. Begitu Buta Terong mengatakan hal itu, terdengar tawa ribuan orang di depan mereka. Oh, ternyata perkelahian itu bukan kejadian sebenarnya. Ya, kejadian itu hanya salah satu adegan wayang yang dimainkan oleh dalang edan asal Kota Tegal Ki Enthus Susmono di Lapangan Mataram, Pekalongan Barat. Memang, Senin malam itu anak keempat dari tokoh wayang terkenal Ki Sumaryodihardjo itu tampil di Kota Batik. Malam itu, wayang golek yang dimainkannya berlakon Begawan Tali Rasa dan Rasa Tali yang menceritakan soal keagamaan. Pada dasarnya, lanjut Enthus, semua pergaulan politik dan agama harus dilandasi pada rasa (perasaan persahabatan-Red). Dia mencontohkan, jika ada seorang kiai atau tokoh pejabat bergaul tanpa dilandasi rasa persahabatan tentunya tidak akan tahan lama "Mereka akan saling menjatuhkan ketika di antara mereka terjadi permusuhan," ujar dia seusai pentas. Syiar Apakah semua lakon yang dimainkan saat pementasan wayang selalu berpedoman pada agama? Enthus yang malam itu didampingi kakak tertuanya, Sudarjo, membenarkan hal itu. Pasalnya, tanpa ada misi syiar agama, dia akan merasa berdosa. "Benar Mas, kalau kita melihat kejahatan, paling tidak kita akan berusaha untuk membina pelakunya," ungkap dia. Bapak empat enak ini menekankan, bagi dia saat tampil menjadi dalang dalam suatu pertunjukan tidak akan memilih-milih, apakah itu kaya atau tidak. Bahkan, dia lebih senang pentas dengan penontonnya para bajingan. "Dengan sedikit sentuhan yang kami tuangkan dalam suatu pementasan, insya Allah mereka akan menjadi sadar," kata Enthus. Ketika ditanyakan resep "dalang edan" itu saat tampil dalam pentas wayang, dia menjawab karena merasa senang dan ikhlas. Artinya, segala pekerjaan bila dilakukan dengan hati ikhlas dan senang maka kendala apa pun dapat disingkirkan. (Moch Achid Nugroho-34j) |