| Kamis, 14 Oktober 2004 | PANTURA |
PesisiranMenggagas Taman PublikOleh: T JirienTAMAN publik adalah sebuah kawasan yang khusus dibangun untuk memberi ruang pada publik secara luas, murah, dan memberi kesan santai. Ruang-ruang publik bisa dimanfaatkan kalangan dari berbagai strata sosial dan tingkatan umur. Di tempat ini orang bisa bercengkerama dengan anggota keluarga, duduk-duduk santai menikmati suasana sekitar, bermain, dan menikmati makanan (entah bawa sendiri atau membeli di taman publik). Akan tetapi di banyak daerah, perhatian terhadap pembangunan taman publik tidak sebesar semangat mengembangkan sarana publik yang berorientasi ekonomi. Banyak lahan yang dimanfaatkan untuk pusat perbelanjaan, ruko, perkantoran tanpa menyisakan sedikit lahan untuk ruang publik yang terbuka dan bisa diakses kalangan luas. Kalaupun lahan itu masih tersedia, tidak lebih sebagai sisa yang telantar dan tak ada yang peduli. Di kota-kota sepanjang pantura, alun-alun adalah salah satu contoh tempat yang sebenarnya bisa dikembangkan sebagai taman publik. Namun, sejauh ini tak banyak daerah yang memberikan cukup perhatian pada tempat yang pada masa lalu merupakan pusat kegiatan masyarakat itu. Banyak alun-alun yang kumuh, kotor, dan kerap dimanfaatkan secara kurang proporsional. Pemanfaatan tempat itu banyak yang asal-asalan. Batang sebagai kota pesisir agaknya relatif lebih baik dalam mengelola alun-alunnya. Dan, itu semestinya sebuah keharusan karena jalur besar Jakarta-Semarang melewati tempat ini. Bagi daerah di pesisir utara, alun-alun adalah sebuah identitas wilayah. Suatu daerah serasa telah kehilangan wibawa jika tidak mampu menangani alun-alunnya dengan baik. Di Batang, selain untuk kegiatan upacara, alun-alun juga menjadi arena dagang makanan pada malam hari. Dengan penataan bagus, kesan ruwet bisa dihindari dan kebersihan tempat juga terjaga sehingga pada siang hari tidak ada sampah berserakan. Jika ada yang dianggap kurang, itu adalah pohon perindang dan tempat duduk. Taman publik layaknya adalah sebuah penyeimbang dari pertumbuhan sarana publik berorientasi ekonomi yang bisa dinikmati semua kalangan, penuh kompetisi, dan bersuasana kering. Taman publik bisa dinikmati kalangan luas, murah, dan santai. Perhatian Besar Kota-kota besar di luar negeri biasanya memiliki perhatian besar untuk mengembangkan taman publik, sama besarnya dengan usaha untuk mengembangkan pusat-pusat bisnis dan bangunan perkantoran. Taman-taman publik biasanya juga sangat dinikmati para keluarga untuk bercengkerama dengan keluarga, bermain, duduk-duduk menikmati suasana sekitar, dan sejenak melupakan kepenatan hidup. Pada masa sekarang, mungkin belum dirasa sebagai kebutuhan mendesak. Toh, masih banyak tempat hiburan yang bisa didatangi dan dengan biaya terjangkau. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan daerah dan terutama akibat semangat otonomi daerah yang mendorong tiap kota untuk membenahi diri, pengembangan taman publik semestinya juga masuk dalam perencanaan tata kota. Pada saat rutinitas kerja kian mengikat, interaksi keluarga dan antarkeluarga makin jarang dan juga variasi kebutuhan dana makin banyak, taman publik yang murah dan gampang dijangkau akan menjadi sebuah pilihan. Pada saatnya taman publik tidak hanya menjadi penghias lahan kosong tak terurus tapi merupakan bagian dari kebutuhan dan gaya hidup masyarakat. Taman publik tidak identik dengan objek wisata. Dia tidak membutuhkan biaya besar untuk membuatnya karena yang dibutuhkan hanya tempat yang teduh, bersih, dan bangku-bangku taman. Sarana hiburan dan orang berjualan biasanya akan berdatangan dan pengelola taman tinggal menertibkan. Bagi wilayah di pantura, alun-alun kota merupakan lahan yang semestinya dikelola dengan sebaik-baiknya. Sayang sekali banyak daerah yang melalaikannya. (Penulis adalah anggota Komunitas Pena Batang-42j) |