logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 WACANA
Line

Jangan Terjebak pada Rutinitas

Oleh: Anjar Budiani - Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Undip

BULAN Ramadan membawa arti tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Beragam aktivitas digelar dalam rangka menyambut bulan penuh hikmah ini. Tak heran, jika di bulan ini hampir seluruh agenda kegiatan yang dilangsungkan selalu berkaitan (atau dihubungkan) dengan aktivitas puasa dan ibadah lainnya. Buka puasa bersama, makan saur bersama, shalat tarawih berjamaah, dan pengajian, dapat dijumpai di berbagai tempat, mulai dari kota sampai desa, dari hotel berbintang sampai musala tua di tengah perkampungan kumuh.

Yang pasti, Ramadan dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah.

Masyarakat kampus pun tidak ingin ketinggalan dalam memeriahkan datangnya bulan suci ini. Ramadan di kampus diharapkan menjadi ajang untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan dan amal sosial mahasiswa dan segenap sivitas akademika. Seperti diketahui, kampus (terutama perguruan tinggi nonkeagamaan) selama ini kurang dalam peningkatan pengetahuan keagamaan pada mahasiswa. Oleh karena itu, momentum Ramadan di kampus seringkali disemarakkan dengan kegiatan-kegiatan yang mengambil tema keagamaan. misalnya seminar, diskusi, pergelaran musik dan kesenian keagamaan, dan perlombaan baca-tulis Alquran.

Selain itu, tidak sedikit mahasiswa yang memanfaatkan bulan Ramadan untuk mencari penghasilan tambahan. Jalan Pahlawan, Semarang, misalnya, sering digunakan oleh mahasiswa untuk berjualan minuman dan makanan kecil untuk berbuka puasa bagi pengguna jalan dan masyarakat yang sedang dalam perjalanan. Fenomena ini juga dapat dilihat di sekitar UGM Yogyakarta. Ini tentu kegiatan yang kreatif dan bernilai positif, dengan catatan, apabila dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan tidak mengganggu aktivitas masyarakat yang sedang melakukan ibadah puasa.

Terjebak Rutinitas

Namun demikian, kegiatan atau berbagai aktivitas masyarakat kampus di bulan Ramadan terkadang terjebak pada hal-hal berikut ini.

Pertama, Ramadan hanya menjadi ajang rutinitas keagamaan. Ibadah puasa, shalat tarawih, diskusi/seminar keagamaan, dan pembagian zakat fitrah hanya dimaknai sebagai kebiasaan (tradisi) saat bulan Ramadan tiba. Tidak lebih, tidak kurang, sehingga setelah Ramadan usai, mereka pun kembali seperti semula tanpa ada perubahan yang signifikan dalam kehidupannya.

Kedua, Ramadan menjadi ajang untuk meningkatkan perilaku konsumtif mahasiswa, di tengah gencarnya terpaan budaya modern melalui berbagai iklan dan kampanye yang menawarkan gaya hidup konsumtif.

Saat ini begitu banyak galeri-galeri mode dan fashion, kafe, dan pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan semangat Ramadan dalam mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Berbagai momentum keagamaan pun menjadi sarana efektif untuk meningkatkan perilaku konsumtif bagi masyarakat.

Ketiga, Ramadan menjadi pemicu eksklusifitas keagamaan. Ramadan di kampus seringkali dimanfaatkan oleh berbagai lembaga kemahasiswaan, terutama kelompok kerohanian Islam, dengan melakukan berbagai kajian dan diskusi yang intensif. Tujuannya agar mahasiswa dan masyarakat kampus dapat lebih meningkatkan pengetahuan tentang keislaman sehingga amal ibadahnya menjadi lebih baik. Namun demikian, tak jarang kajian dan diskusi ini justru terjebak pada peningkatan semangat keagamaan yang berlebihan dan cenderung menyebarkan permusuhan dengan kelompok atau aliran keagamaan yang berbeda. Dan pada akhirnya kampus pun menjadi sarana berkembangnya kelompok-kelompok keagamaan eksklusif. Hal ini, justru memicu situasi yang tidak kondusif bagi perkembangan iklim intelektualitas di kampus.

Apa pun ceritanya, ketiga fenomena di atas mengakibatkan ibadah puasa sebagai sarana membentuk pola hidup sederhana, ramah lingkungan, serta sebagai sarana meningkatkan empati sosial, menjadi tidak optimal. Kampus pun kembali dihiasi dengan beragam bentuk formalistik, kemewahan, dan eksklusifitas.

Untuk itulah, dalam menghadapi Ramadan kali ini, diharapkan masyarakat kampus dapat mengisinya dengan menggelar kegiatan yang lebih mengedepankan esensi (substansi) dari pada sekadar rutinitas-formalitas belaka. Dengan demikian, bulan Ramadan menjadi awal hadirnya suasana kampus yang sederhana dan penuh toleransi dan benar-benar menjadi tempat yang kondusif bagi persemaian intelektualitas. (29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA