logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Festival Warak 2004

Kabar Dimulainya Puasa ''Semarang Tempo Doeloe''


FESTIVAL TAHUNAN: Salah satu peserta Festival Warak dalam arak-arakan tahun lalu. Festival semacam ini digelar setiap tahun di Semarang, tepatnya sehari menjelang dimulainya bulan puasa.(79) - SM/dok

HARI ini, puncak dugderan -ritual pasar rakyat menyambut datangnya bulan puasa- digelar dalam acara bertajuk ''Festival Ritual Warak Ngendog 2004''. Sekitar 30 warak bakal mengikuti pawai sepanjang 1,5 km, mulai halaman Balai Kota di Jl Pemuda, hingga Masjid Kauman di kampung Kauman. Pawai seperti itu telah menjadi tradisi tahunan, digelar tepat sehari menjelang puasa dimulai.

Tentu saja, acara inti dalam puncak dugderan itu bukan terletak pada arak-arakan, atau pawai warak. Lebih dari itu, sesuatu yang penting dan menjadi pokok dalam ritual tersebut adalah prosesi penyerahan serat kekancingan wara-wara siam (surat pengumuman dimulainya puasa) dari Adipati Semarang kepada Lurah Kauman untuk diteruskan pada masyarakat Semarang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Wali Kota Semarang akan bertindak sebagai Adipati dalam ritual itu.

Secara visual, apa yang disebut dengan warak ini tergolong menarik dan unik. Bentuknya adalah binatang rekaan berkaki empat, konon perpaduan antara singa dan naga dengan leher agak panjang, berekor vertikal, dan berbulu terbalik.

Ada beberapa penafsiran berkaitan dengan filosofi maupun visualisasi ''binatang aneh'' itu. Sebagian orang mengatakan, warak merupakan mitologi buroq, yaitu kendaraan Nabi Muhammad SAW dalam menandai kesadaran spiritual umat manusia (Isra Mikraj).

Sebagian yang lain berpendapat, warak memiliki kesamaan dengan binatang dalam mitologi China, yakni sebangsa burung merak berkepala naga dan berbadan singa.

Menariknya, bila dilihat dari segi bentuk serta bahan pembuatannya, warak sesungguhnya merupakan ekspresi dari akulturasi (percampuran) budaya dan pengaruh kuat dari masyarakat China.

Lihatlah, misalnya, penggunaan kertas dan bambu sebagai media pembuatan. Sebelum kedatangan masyarakat China di Indonesia, khususnya di Semarang, kertas dan bambu belum dikenal sebagai media bagi pembuatan patung.

Perluasan Lampion

Secara teknik, warak bisa jadi sebagai cerminan atas perluasan dari teknis pembuatan lampion yang sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat China. Artinya, dalam skala lebih luas, pengaruh kebudayaan China di Nusantara harus diakui peranannya. Fakta ini sebenarnya dapat dijadikan tonggak penting bahwa kerukunan antarbudaya sebenarnya merupakan sesuatu yang mutlak.

Kata ''warak'' sendiri, dari etimologi (sejarah kata), berarti wara-wara (kabar, pemberitahuan atau arak-arakan) dalam menyambut datangnya bulan puasa. Dalam terjemahan bahasa Arab, warak berarti niatan suci untuk menjalankan ibadah puasa. Meskipun kata warak dimaknai secara beragam, namun secara filosofis tampaknya memiliki makna yang sama; warak sebagai simbol budaya ritual yang menandai dimulainya ibadah puasa bagi umat Islam di Semarang.

Festival yang akan berlangsung hari ini mulai pukul 12.00 tersebut dikemas dalam bentuk kegiatan ritual budaya, dan festival warak. Festival digelar sebelum arak-arakan, diikuti sekitar 30 kelompok warak dari berbagai wilayah di Semarang.

Ritual tahaunan ini dipastikan akan menarik jika visualisasi dari seluruh rangkaian prosesi mendekati tradisi asli. Misalnya soal kostum, aksesoris, simbol-simbol, serta pembacaan ritual doa. Gampangnya, pergelaran itu akan semakin elok jika spirit "Semarang Tempo Doeloe'' muncul dari pawai itu.

Maka, siapa pun penyelenggaranya, jangan sampai event budaya ini sekadar menjadi proyek dadakan. Saya percaya, Ya'ik Sekongkel selaku event organizer untuk festival tahun ini, bisa lebih melihat pada aspek ''pelestarian budaya''.(Ganug Nugroho Adi-79)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA