logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Kecilnya Kredit Perbankan Masih Jadi Kendala

SEMARANG-Masih kecilnya kredit perbankan yang disalurkan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi kendala bagi pengembangan sektor usaha tersebut, terutama dalam menembus pasar global. Kredit perbankan bagi UMKM baru sekitar 20% dari total kredit yang disalurkan. ''Rata-rata tiap bank hanya menyalurkan kredit bagi UMKM sekitar 10% dari total kredit yang mereka kucurkan,'' kata Eva Riyanti Hutapea, pendiri PT UKM dan mantan CEO Indofood, dalam seminar "Strategi Pengembangan dan Pemantapan Pasar Ekspor", yang digelar sebagai rangkaian pembukaan pameran Central Java Fair (CJV) 2004 di Gedung JDC Jateng, Rabu (13/10).

Nilai tersebut, tambah Eva, terlalu kecil untuk mengembangkan sayap bisnis UKM yang banyak dan tersebar di mana-mana. Dia juga menjelaskan, dalam mengembangkan UMKM tidak bisa disamaratakan, karena tersebar di mana-mana dan kondisinya pun berbeda-beda. Justru yang harus dilakukan adalah cara memajukannya. Caranya, menjalankan bisnis ini harus menggunakan hati dan kepala, yang disebutnya "H to H" (heart to head). Di samping itu, juga harus didasari dengan pikiran yang positif, sehingga nanti akan berpengaruh pada hasil produksi yang optimal.

Selain Eva, dalam seminar tersebut hadir pula sebagai pembicara mantan Atase Perdagangan dan Perindustrian seperti Arif Adang (Italia), Bambang Wahyudi (Korea), dan Nawolo Widodo (Taiwan).

Selain itu, Eva menyebutkan, lima kendala lainnya yang sering dihadapi usaha kecil tersebut, sehingga sulit berkembang. Kelimanya adalah skala, jangkauan, keleluasaan, kecepatan, dan tidak adanya transformasi perusahaan kecil menjadi menengah atau besar.

Sebagai kesimpulan, dia menjelaskan, ada banyak faktor yang harus diperhatikan dalam pengembangan bisnis UKM, yaitu kondisi, fondasi, potensi, kompetensi, informasi, regulasi, kompetisi, komunikasi, komputerisasi, aliansi, prestasi, integrasi, reputasi, solusi, dan basa basi.

Pembicara lainnya, Arif Adang, menjelaskan, ciri khas pasar Uni Eropa adalah sangat selektif, memiliki daya beli yang tinggi (pendapatan per kapita penduduk tinggi), dan menerapkan standar mutu.(hrn-69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA