logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Berat Rasanya Kehilangan

RINDI (3) seperti sedang belajar arti kehilangan. Sejak sore putra kedua almarhum Serda Yarjun Rahmatullah itu rewel terus-menerus. Ya, mungkin dia belum paham betul makna kepergian orang tercinta. Tapi paling tidak, kepergian ayahnya yang begitu mendadak karena musibah heli di Takengon Aceh Tengah menerbitkan semacam rasa tak enak pada dirinya. Makanya dia rewel.

Bujuk rayu sang nenek yang menggendongnya tak bisa menghentikan tangisnya. Muka tirusnya menyuarakan ketidaknyamanan. Mungkin dia ingin dibuai ibunya.

Tapi apa daya, Rukati, ibunya, masih remuk redam oleh kesedihan yang mendalam. Bahkan, setibanya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Rukati tak kuasa melawan rasa kehilangan. Dia pingsan.

''Ayo, kuatkan. Kuatkan. Kamu pasti kuat. Nyebut,'' hibur handai tolan.

Kesedihan masih bersimaharaja. Perempuan tiga puluhan itu masih tak mampu menegakkan tubuhnya. Tak jauh darinya, Juwarsih, istri Serda Sulaiman, terlihat lebih tabah. Bibirnya tak henti-henti melafalkan bacaan untuk menguatkan hatinya.

''Laa haula wa laa quwwata illa billahi al aliyyi al adziimi,'' zikirnya.

Kendati begitu, tubuhnya tetap tak sekuat hatinya. Dia harus dipapah untuk memasuki TMP, mengikuti pemakaman suaminya.

Dipaksa Berpisah

Ya, mereka berdua pantas bersedih. Sebab, rasanya, siapa pun tak pernah siap menghadapi perpisahan untuk selama-lamanya. Begitu pula mereka berdua.

Mereka dipaksa berpisah dengan suami masing-masing, yang dimakamkan berdampingan. Menempati sisi tenggara TMP Giri Tunggal, Yarjun dan Sulaiman, seperti melanjutkan perkawanan mereka semasa di Skuadron 11/Serbu. Sebatang angsana menaungi pusara terbaru di TMP tersebut.

Kesedihan yang sama, tentu saja, dirasakan kawan kolega almarhum dari Penerbad. Mereka yang setiap hari bersitatap, tiba-tiba dipisahkan oleh takdir yang ditentukan Tuhan.

Kepergian mereka berdua diantarkan dengan delapan tembakan salvo, pertanda penghormatan. Mereka pergi dengan kebanggaan, menyimpan merah putih di dalam dada, mempertahankan keutuhan wilayah negara.

Di luar pagar TMP, merah putih terpacak setengah tiang, menyatakan kesedihan yang sama. (Achiar M Permana-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA