logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 NASIONAL
Line

Para Korban Heli Dimakamkan

  • Dua di TMP Giri Tunggal

KORBAN HELI: Peti jenazah Serda Yarjun Rahmatullah diangkat dari rumah duka. Ia bersama Serda Sulaiman semalam dimakamkan berdampingan di TMP Giri Tunggal, Semarang. Mereka adalah dua dari delapan prajurit TNI yang gugur dalam musibah jatuhnya helikopter di Takengon, Aceh Tengah. (79)

SEMARANG- Jenazah prajurit Penerbad Semarang yang gugur dalam musibah kecelakaan helikopter di Aceh, semalam dimakamkan. Dua korban, Serda Sulaiman (33) dan Serda Yarjun Rahmatullah (41), dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal Semarang.

Dua lainnya, Mayor CZi Heru Irianto (43) dan Letda Kav Engkos Kuswara, dimakamkan di tempat kelahiran masing-masing. Heru dimakamkan di Ampel Boyolali daerah asal istrinya, sedangkan Engkos di Lembang.

Seperti diberitakan kemarin, delapan prajurit TNI gugur karena Heli Bell 209 yang ditumpangi jatuh di Takengon Aceh Tengah. Empat dari prajurit yang gugur berasal dari Skadran 11/Serbu Penerbad Semarang. Diduga, jatuhnya heli disebabkan oleh cuaca buruk.

Pemakaman Serda Sulaiman dan Serda Yarjun dilakukan dengan upacara militer, dipimpin oleh Inspektur Upacara (Irup) Wakil Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Wadanpus Penerbad) Kol CHB Dalkijo. Kedua prajurit dimakamkan berdampingan, di sisi tenggara TMP Giri Tunggal.

''Kami serahkan jasa dan jasad almarhum kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,'' kata Dalkijo.

Kedatangan kedua almarhum ke TMP Giri Tunggal diantarkan oleh empat peleton prajurit Arhanudse, Kavaleri, Banteng Raiders (BR). Selain itu, para tetangga dan handai tolan juga turut mengantar kepergian almarhum ke peristirahatan terakhir.

Sebelumnya jenazah para prajurit diterbangkan dari Lanud Halim Perdanakusuma dengan menggunakan Fokker 27. Setibanya di Bandara A Yani pada pukul 19.10, segera disambut dengan upacara kemiliteran yang dipimpin Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI Sochib.

Suasana duka menyelimuti penyambutan para jenazah. Para anggota keluarga saling berangkulan begitu jenazah tiba, seolah-olah tak kuat menahan duka.

Dimakamkan di Boyolali

Sementara itu, jenazah pilot Mayor CZi (42) Heru Irianto sempat disemayamkan di rumah duka Blok G-90 No 7 Perumahan Penerbad Kelurahan Pudakpayung, Banyumanik, Semarang, selama sepuluh menit, sebelum dibawa ke tempat pemakaman.

Jenazah almarhum, setelah mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani, tiba di rumah duka pukul 20.00. Begitu disemayamkan di rumah duka, puluhan pelayat yang sudah menunggu sejak sore hari mendoakan almarhum dan keluarga yang ditinggalkannya.

Tak lama kemudian, memakai mobil jenazah milik TNI, almarhum dibawa ke tempat pemakaman di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali, untuk dimakamkan di tempat peristirahan terakhir. Makam tersebut merupakan tempat pemakaman umum yang tak jauh dari rumah orang tua istri almarhum. Jenazah Mayor CZI Heru Irianto semalam pukul 21.30 tiba di rumah duka Dukuh Rekuning, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali. Setelah dilakukan prosesi upacara pukul 22.30, almarhum dimakamkan di perkuburan setempat dengan iringan tembakan salvo.

Sebagian besar keluarga almarhum baik dari keluarga istri almarhum di Boyolali maupun orang tua angkat almarhum di Solo mengiringi di belakang mobil yang membawa jenazah menggunakan sedikitnya tujuh mobil.

Untuk diketahui, almarhum Mayor CZi Heru Irianto kelahiran Makassar 43 tahun silam. Namun kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lama dan dibesarkan oleh orang tua angkat di Solo. Karena itu, dia dimakamkan di tempat kelahiran istrinya, Ny Suharni (32).

Hasil perkawinannya dengan Suharni dikarunia satu anak, Henisa Novia Putranti (8), duduk di kelas 2 di salah satu SD negeri Semarang. Suharni anak keempat dari lima bersaudara putri Pujo Suwarno yang sehari-harinya sebagai petani.

Suasana duka dan hujan tangis mewarnai kedatangan jenazah di rumah duka. Anak semata wayang, Henisa Novia Putranti, yang digendong oleh salah seorang kerabatnya, larut dalam tangis dan sesekali memanggil ayahnya. Istrinya tak kuasa menahan air mata dan sesekali terlihat sempoyongan.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Komandan Landud Ahmad Yani Semarang Kolonel CHB Sudarto. Sedangkan upacara persemayaman dipimpin oleh Dandim 0724 Boyolali Letkol Erlan Suryadi. Tampak hadir melayat di rumah duka, Bupati H Djaka Srijanta, Muspida, Camat Ampel Tasno SSos, kerabat dekat, dan tetangga sekitar.

Menurut keterangan kerabat dekat, Suryani, sebelum berangkat bertugas di Tekengan Aceh, almarhum menyerahkan SK pengangkatan TNI kepada istrinya. Waktu itu korban berujar, ''Ini disimpan baik-baik untuk pegangan kalau saya sudah pensiun.'' Waktu itu istrinya sempat kaget dan menjelaskan, pensiunnya masih lama.

Korban meraih jabatan mayor tahun 1999. Jabatan terakhir Dan Flite B Heli Serbu Dron II Serbu pada kesatuan Puspen Penerbad Semarang. Korban dilahirkan di Surabaya 23 Maret 1962. Masuk TNI tahun 1981. Pendidikan yang pernah dijalani Secaba lulus tahun 1981/1982, Secapa PNB AD 1983/1984, Sussarcab 1987/1988, Suslapa I 1992/ 1993, dan Suslapa II 1996/1997.

Penugasan yang pernah dilakukan operasi Kalbar, Timtim, Medan, Irja, Kupang, Ambon, Aceh, dan Ternate.

Wafatnya salah satu putra terbaik Skadran 11/Serbu (bukan Skadran 11000) juga meninggalkan duka yang mendalam bagi teman-teman almarhum. Salah satu teman dekat almarhum, Peltu Junaedi, di sela-sela menunggu kedatangan almarhum di rumah duka menjelaskan, almarhum termasuk orang yang ulet semasa hidupnya.

''Jujur saja saya kehilangan teman terbaik saya,'' kata dia yang tinggal tidak jauh dari rumah duka.

Almarhum Mayor CZi Heru Irianto memulai karier di dunia penerbangan militer sejak sekolah di Secaba Milwake II Cimahi Bandung, 1981-1982. Begitu lulus dia mendapat pangkat sersan dua. Belum merasa puas, dia mengikuti pendidikan kejuruan penerbang di Penerbad Jalan Siliwangi Semarang pada tahun 1982.

Dia menyelesaikan pendidikan di pusat pendidikan penerbangan itu selama dua tahun. Tak lama setelah itu, kembali dia mengikuti pendidikan Secapa, masih di Penerbad. Begitu menyelesaikan pendidikan selama dua tahun (1982-1984), pangkatnya naik menjadi letnan dua.

Di sinilah kariernya terus naik. Begitu berpangkat letnan dua, dia mulai menjadi copilot. Dia kembali mengikuti pendidikan di Pusdik Penerbad selama tiga tahun. Begitu lulus almarhum langsung dipercaya sebagai pilot dan menjadi penerbang pelatih di Pusdik sampai berpangkat mayor CZi. Hingga akhirnya dia ditarik ke Skadran 11/Serbu Penerbad. Penugasan yang pernah dilakukannya adalah operasi Kalbar, Timtim, Medan, Irja, Kupang, Ambon, Aceh, dan Ternate.

Nilai positif yang patut dipelajari dari almarhum adalah kemauan yang kuat untuk meningkatkan kualitas diri lewat pendidikan dan pelatihan. Di samping mengikuti pendidikan resmi, pada dinding rumah terpampang berbagai foto almarhum seusai mengikuti kursus dan pendidikan.

Menahan Duka

Sementara itu, perasaan menahan duka harus dipendam oleh istri seorang prajurit untuk menanti kabar suaminya. Mungkin itulah yang dirasakan Ny Suharni, istri almarhum Mayor CZi Heru Irianto.

Menurut tetangga almarhum, Ny Astuti Sutrisno, meski para tetangga telah mengetahui kematian almarhum, misalnya dari televisi, secara protokoler tidak boleh memberitahukan kabar kematian tersebut.

''Aturannya harus disampaikan komandan yang didampingi oleh dokter TNI,'' kata dia, yang sedang menunggu jenazah.

Ya seperti itu aturannya. Lantas bagaimana kalau sang istri almarhum (Ny Suharni) juga sudah tahu dari televisi. Menurutnya, di sinilah kemampuan menahan perasaan duka sendirian atau bersama keluarga lain dalam satu rumah diuji, sampai ada kabar resmi dari atasan.

Telepon Tiga Kali

Salah satu korban jatuhnya helikopter di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah Letda TNI-AD Dwi Yudha Febrianto. Almarhum adalah anak pasangan Letkol (Purn) Djoko Agus-Asiadah. Kemarin, rumah duka di Jalan Brawijaya I/56 ramai dikunjungi pelayat. Mereka menyampaikan duka cita atas musibah yang menimpa perwira pertama lulusan Akmil 2002 itu.

"Saya sempat tak percaya apakah yang menjadi korban adalah anak saya. Saya sampai telepon tiga kali untuk menegaskan apakah benar anak saya menjadi salah satu korban jatuhnya helikopter tersebut," kata Djoko Agus kepada wartawan, di rumahnya, Rabu (13/10).

Letkol (Purn) Djoko Agus adalah perwira menengah yang lama bertugas di lingkungan Kodam V/Brawijaya. Dia pernah menjabat sebagai Komandan Kodim Bojonegoro dan Kapendam V/Brawijaya. Dia dikenal dekat dengan wartawan. Banyak karangan bunga menghiasi halaman masuk rumah di Jalan Brawijaya I/56 Surabaya itu.

Tampak saudara, kerabat, dan prajurit TNI Kodam V/Brawijaya memadati kediaman almarhum. Djoko Agus

tampak sangat terpukul atas peristiwa itu. Asiadah, ibu almarhum, lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. "Saat menerima kabar tersebut, saya hampir tak percaya," tambahnya.

Kapan menerima kabar buruk putra keduanya tersebut? Djoko Agus mengemukakan, menerima kabar pukul 18.00 saat hari kejadian. Yang pertama kali mengabari adalah saudaranya, Letkol Inf Joko Subandrio, yang kebetulan bertugas di Aceh. Saat dikabari, dia di Bojonegoro. Dia lantas memberi tahu istrinya yang kebetulan di Jakarta. ''Malam itu juga saya dan istri sama-sama ke Surabaya,'' tambahnya.

Djoko Agus tak punya firasat apa pun. Dia mengatakan, justru yang mendapat firasat adalah kakak almarhum, Eko Antoni Candra, yang sekarang di Jerman. Karena itu, dalam tempo dua minggu sebelum kejadian, Eko kerapkali menelepon ke Surabaya untuk menanyakan kondisi Dwi Yudha, yang sejak tanggal 1 Oktober 2003 bertugas di Aceh. Eko tak jarang bermimpi bertemu Dwi Yudha.

Rencananya jenazah almarhum dimakamkan hari ini pukul 10.00. Almarhum anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Letkol (Purn) Djoko Agus-Asiadah. Kakaknya, Kapten TNI Eko Antoni Candra, dan adiknya, Trio Januar Wisudanto.(amp,G17,shj,G14-78t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA