| Kamis, 14 Oktober 2004 | SEMARANG |
Putra Kerajaan Majapahit Dirikan Masjid di KendalLEBIH dari empat abad silam, atau tepatnya 1210 H, Wali Joko mendirikan sebuah masjid di Kendal. Wali Joko yang di saat mudanya bernama Pangeran Panggung merupakan putra bungsu Prabu Kertabumi/Brawijaya V dengan Permaisuri Murdaningrum, seorang putri dari Kerajaan Campa (Thailand). Pangeran Panggung datang dan mendirikan masjid di daerah Kendal, setelah melewati pengembaraan cukup panjang. Pengembaraan yang harus dilakukan, setelah kerajaannya, yaitu Majapahit, runtuh karena diserang pasukan Prabu Girinda Wardana (Kediri). Kini, masjid peninggalan Wali Joko tersebut dikenal dengan Masjid Agung. Seiring berjalannya waktu, masjid yang berdiri ''gagah'' di pusat Kota Kendal ini telah mengalami delapan kali renovasi. Di sisi lain, tidak banyak benda-benda peninggalan yang dapat ditemui di masjid itu. Menurut catatan takmir masjid, sejarah hanya menyisakan antara lain berupa, maksurah atau tempat shalat bagi bupati kala itu, mimbar tempat khotbah berbahan kayu jati yang di bagian muka bertuliskan tahun 1210, serta bergambar beduk dan penabuhnya. Di kompleks berdirinya masjid yang saat ini sedang dibangun sebuah menara dengan tinggi 45 meter. Adanya makam di kompleks masjid, pada awalnya adalah rumah Wali Joko. ''Selain makam Wali Joko yang berada di depan sebelah selatan Masjid Agung, di belakang masjid juga terdapat dua makam ulama. Yaitu makam Kiai Abu Sujak yang di era 1800-an adalah penghulu pertama Masjid Agung dan makam Wali Hadi yang meninggal pada 1930. Semasa hidup, Wali Hadi merupakan pengisi pengajian di masjid ini,'' papar KH Makmun Amin, takmir Masjid Agung Kendal. KH Makmun Amin mengatakan berdasar penelusuran sejarah yang berhasil dirangkumnya, disebutkan Wali Joko masih memiliki hubungan darah dengan Raden Patah, raja pertama Kerajaan Demak Bintoro. Raden Patah adalah putra Prabu Kertabumi dengan Permaisuri putri Kerajaan Campa, Dewi Kian (Jin Bum). Buka Bersama ''Wali Joko yang memiliki nama kecil Jaka Suwirya adalah kakak-beradik dengan Sri Batara Katong (Sunan Katong) yang dimakamkan di Kaliwungu. Saat muda, Wali Joko pernah berguru pada Syeh Siti Jenar. Raden Patah yang mengetahui hal ini, kemudian menasehati Wali Joko agar meninggalkan ajaran yang dinilai menyimpang dari syariat Islam, utamanya di bidang tauhid itu. Raden Patah menyarankan agar Wali Joko belajar agama kepada Sunan Kalijaga yang beraliran ahlusunnnah wal jama'ah.'' Di masjid yang didirikannya, dulu Wali Joko memiliki sejumlah santri. ''Beliau menanggung seluruh kebutuhan hidup para santrinya. Selain diberi pembelajaran ilmu agama, para santri juga dikaryakan antara lain dengan mengolah lahan pertanian dan tambak. Apa yang dilakukan Wali Joko, kami petik hikmahnya. Salah satunya yaitu membuat tradisi buka bersama di bulan Ramadan,'' jelasnya. Di bulan suci, sejak beberapa tahun ini takmir Masjid Agung menyediakan makan dan minum untuk berbuka bagi semua lapisan masyarakat. Misalnya, para musafir yang kebetulan singgah di masjid itu. ''Selain melestarikan tradisi tersebut, di bulan Ramadan takmir masjid juga menggelar pengajian kitab kuning. Banyak santri kalong atau santri pendatang mengaji di masjid ini setiap malamnya. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kendal. kitab kuning berisi uraian dan penjabaran para ulama yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Seperti di masjid-masjid umumnya, pada Ramadan juga diisi dengan kegiatan tadarus .'' (Setyo Sri Mardiko-84) |