| Kamis, 14 Oktober 2004 | SEMARANG |
Masjid Besar KaumanPernah Dilantakkan Petir''Perengetan. Mesigit besar Semarang tebakar hari Djemahat tanggal 22 April, djam 1/2 9 malam, sebab dari goentoer. Moelai dibikin betoel tanggal 23 April 1889 dengan pertoeloeloengannya Kandjeng toewan GI Bloeme Asistent Resident Semarang dan Raden Toemenggoeng Tjokrodi Poero Boepati Semarang jang atoer pemilikannja toewan Ingenieur GA Gambier. Pada tanggal 23 November djadinya.'' INSKRIPSI berbahasa Melayu dan berejaan Van Ophuijsen itu hingga kini masih tertera pada salah satu sisi dalam gapura Masjid Besar Kauman Semarang. Kalimat yang dipahatkan pada sebidang batu pualam tersebut menjadi tengara musibah yang terjadi lebih dari satu abad lampau, terbakarnya masjid terbesar di Semarang. Sebuah artikel di harian de-Lokomotif menggambarkan kejadian itu berlangsung cepat. Akibatnya, tak satu pun barang di dalam masjid yang terselamatkan, termasuk kursi antik yang biasa digunakan sebagai tempat duduk Kanjeng Bupati dan Kanjeng Kyai Penghulu saat berlangsung upacara resmi. Kursi tersebut konon pernah ditawar dengan harga f 40.000. Sebagai perbandingan, uang sebesar itu empat kali lipat gaji seorang residen atau bupati setahun. Terkait dengan peristiwa tersebut, banyak tafsir bermunculan. Pemerhati sejarah Semarang, mendiang Amen Budiman mencatat, masyarakat bumi putra menganggapnya sebagai buah kelancangan umat karena membuat bangunan Masjid Besar Kauman (dahulu Masjid Besar Semarang) lebih tinggi dari Masjid Agung Demak, masjid termulia di tanah Jawa. Ada pula yang berpendapat karena umat Islam di Semarang abai terhadap nasihat Kanjeng Kyai Penghulu Masjid Besar Semarang yang lama untuk memperluas serambi masjid tersebut. Lebih ekstrem lagi adalah tafsir yang menyebut kebakaran sebagai ''tamparan'' Tuhan atas penyelewengan dana pembangunan masjid tersebut yang dilakukan justru oleh Kyai Penghulu Masjid Besar Semarang. Sementara kalangan Eropa dengan argumentasi rasionalnya berpendapat, itu akibat tidak adanya alat penangkal petir yang dipasang pada puncak bangunan masjid. Peristiwa itu menggemparkan masyarakat Semarang, sebab bangunan megah masjid yang terletak pada sisi barat Aloon-aloon itu baru tujuh tahun sebelumnya direnovasi dengan biaya besar dan waktu pengerjaan yang panjang (18 tahun) oleh Bupati RM Tumenggung Ario Purboningrat. Kebakaran itu adalah satu peristiwa yang terdokumentasikan sepanjang rentang sejarah perjalanan Masjid Besar Kauman. Sederhana Didirikan pada tahun 1742, wujud Masjid Besar Kauman masih teramat sederhana. Diduga, masjid tersebut merupakan pengganti Masjid Besar Semarang lama di tepi Kali Semarang, arah timur laut Kabupaten yang terbakar saat terjadi Perang Semarang (pemberontakan orang-orang Tionghoa yang bersekutu dengan Mas Garendi melawan Amangkurat). Tahun 1759, Bupati Kyai Adipati Surohadimenggolo III yang saat itu memerintah Semarang, merenovasi bangunan masjid sederhana tersebut menjadi megah. Atas jasanya itu, dia mendapat julukan ''Destic er van de Missigit te Semarang'' (pendiri Masjid Besar yang pertama di Semarang). Upaya pembangunan kedua dilakukan pada 1867, hingga terjadi musibah kebakaran sebagaimana tersebut di awal tulisan. Kini, Masjid Besar Kauman masih berdiri kukuh, terimpit di antara hiruk-pikuk aktivitas manusia di sekitarnya. Alon-alon yang sejatinya merupakan kesatuan tak terpisahkan, telah lama hilang. Namun masjid itu tetap menjadi persinggahan yang teduh bagi umat yang hendak ''bercumbu'' dengan tuhannya, terlebih pada Ramadan al Mubarak ini.(Rukardi-89) |