| Kamis, 14 Oktober 2004 | SEMARANG |
Pedagang Bunga di Makam BergotaTak Seramai Tahun LaluPEKAN menjelang Ramadan adalah masa panen bagi Sutinah (36). Penjual bunga tabur musiman di tempat pemakaman umum (TPU) Bergota Semarang itu selalu mendapat rezeki berlebih dari banyaknya penziarah yang datang. Dalam sehari rata-rata dia bisa menjual 20 keranjang bunga tabur. Itu pun dengan harga yang sudah di-''mark up'' dari hari-hari biasa. ''Sekeranjang kecil bunga tabur ini saya jual Rp 5.000. Kalau hari biasa, paling banter Rp 2.500. Ya, mrema setahun sekali,'' tuturnya. Sepekan terakhir, Sutinah menghabiskan waktunya untuk berjualan bunga. Sebuah lokasi strategis pada ujung jalan masuk menuju kompleks makam terluas di Kota Semarang itu dipilihnya. Perempuan itu mengerti benar strategi dagang jemput bola dalam menjaring pembeli. Darwati (48), pedagang bunga di Pasar Randusari tak seberuntung Sutinah. Meski mengakui ada peningkatan jumlah pembeli, menurutnya itu tak terlampau berarti. ''Ruwah kali ini tidak seramai tahun lalu. Saya nggak tahu kenapa. Apa mungkin karena habis pemilu,'' ujarnya. Perempuan bertubuh subur itu lantas menunjukkan bunga tabur dagangannya yang terlihat layu di dasaran. Bunga yang dikemas dalam keranjang-keranjang kecil tersebut sejak kemarin belum terjual. Darwati berniat menjual dagangannya itu di bawah harga seandainya tetap belum laku juga. Menurutnya, lebih baik kembali modal daripada sama sekali merugi. Kondisi itu diperparah oleh kenaikan harga bunga yang terlampau tinggi. Para petani dan bakul memanfaatkan momentum Ruwah untuk mendapatkan keuntungan lebih. Mereka menaikkan harga bunga tabur berlipat-lipat. Menurut Ny Nurzaid (54), pedagang bunga yang juga berkios di Pasar Randusari, sekeranjang bunga tabur yang pada hari biasa dijual Rp 5.000, saat ini harganya mencapai Rp 50.000. Untuk menyiasati hal itu, dia rela kulakan langsung ke petani-petani bunga di Bandungan. ''Pagi-pagi sekali saya berangkat dari rumah. Rekasa sithik untuk mendapat harga yang sedikit lebih murah,'' ujarnya. Celakanya, para penziarah enggan memahami hal itu. Mereka tak mau mengerti bahwa kenaikan harga itu dimulai dari tingkatan petani dan bakul-bakul perantara yang menyuplai bunga kepada para pedagang di sekitar TPU Bergota. Tak heran jika para pembeli acap protes dengan kenaikan harga yang ''umpak-umpakan'' itu. ''Pembeli sering hanya melengos waktu saya beri tahu harga bunga ini. Bahkan ada pembeli yang memilih kembang remukan daripada glondhongan demi mendapat harga murah,'' kata Ny Nurzaid. Namun dia masih berharap, para penziarah akan berbondong-bondong ke TPU Bergota sehari menjelang Ramadan (hari ini-Red). Selain hari terakhir sebelum puasa, hari itu berpasaran Jumat Kliwon.(Rukardi-89) |