logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Oktober 2004 SEMARANG
Line

Ingat Ramadan, Ingat Nyadran

Bulan suci Ramadan selalu saja mendapat sambutan khusus dari kaum muslim. Di Jawa, nyadran merupakan salah satu cara untuk menyongsongnya. Ritual itu tak hanya berdimensi spiritual, tapi juga berefek pada aspek ekonomis. Setidaknya para pedagang bunga yang merasakannya. Wartawan Suara Merdeka Rukardi menyajikan hal itu dan melengkapinya dengan potret masjid legendaris di Kota Semarang, Masjid Besar Kauman.

PADA bulan Syaban atau Ruwah, masyarakat Jawa-Islam memiliki tradisi berziarah ke makam keluarga dan leluhur. Momentum ziarah terakhir sebelum Syawal tiba itu mereka manfaatkan untuk membersihkan makam dan menaburkan bunga di atas pusara. Tradisi itu acap disebut nyadran.

Tradisi yang konon mendapat pengaruh dari upacara Sadhra dalam agama Hindu itu juga dilakukan sebagian masyarakat Semarang. Seminggu menjelang Ramadan, makam-makam di penjuru kota banyak dikunjungi penziarah, tak terkecuali tempat pemakaman umum (TPU) Bergota.

''Sejak Kamis (7/10) penziarah sudah berdatangan. Biasanya rombongan. Kalau dihitung, jumlahnya ribuan,'' ujar Kardi (64), juru kunci di makam itu, kemarin.

Memang, penziarah tahun ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Itu dirasakan benar oleh Kardi dan para juru kunci makam Bergota lain. Biasanya, seminggu sebelum Ramadan, para penziarah telah berbondong-bondong mendatangi makam kerabat mereka.

''Sekarang agak sepi. Nggak tahu kenapa, pokoknya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,'' katanya.

Kardi berharap para penziarah akan serentak datang pada Kamis ini. Selain bertepatan dengan hari pasaran Jumat Kliwon, itu merupakan hari terakhir sebelum memasuki Ramadan.

Luar Kota

Para penziarah tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tapi juga kota-kota lain, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan Jakarta. Banyak mobil dengan pelat nomor kota-kota tersebut diparkir di sepanjang jalan yang membelah TPU Bergota.

Salah seorang penziarah dari luar kota itu adalah Astuti (47). Dia datang dari Jakarta bersama anaknya untuk menziarahi makam ayahnya, Supandi, di blok Makam Prajurit.

''Saya selalu menyempatkan diri berziarah ke sini setahun sekali setiap menjelang Ramadan. Kalau Lebaran malah nggak, takut macet,'' katanya.

Faisal (38), penziarah asal Solo juga memanfaatkan momentum nyadran sebagai ungkapan bakti kepada almarhum ayahnya. Kemarin, pria berambut cepak itu datang ke TPU Bergota bersama ayah, adik, istri, dan kedua anaknya. Sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dia memanfaatkan waktu libur akhir pekannya untuk berziarah.

Nyadran, tak hanya dilakukan pada makam kerabat saja. Serombongan pemuda asal Pegandon Kendal, kemarin menziarahi makam Kiai Sholeh Darat. Mereka datang jauh-jauh berkendara sepeda motor. Pada cungkup makam ulama besar Semarang masa lalu itu mereka berdoa bersama, membaca surat Yasin dan zikir.

Nur Afandi (27) salah seorang di antaranya menuturkan, maksud kedatangan mereka semata mencari berkah.

Tak termungkiri, kedatangan para penziarah menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang beroleh nafkah dari keberadaan TPU Bergota, seperti penjual bunga tabur, tukang parkir, juru kunci, dan para pengemis.(Rukardi-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA